Senin, 13 Juli 2009

TAWAKAL DAN IKHLAS (2)

Adapun ikhlas dalam ketaatan adalah meninggalkan sikap riya. Ikhlas termasuk amal hati yang tidak bisa diketahui kecuali oleh seorang hamba dan Tuhannya. Terkadang urusan ikhlas ini samar dan tercampur baur bagi seorang hamba, hingga ia meneliti lebih lanjut dan bertanya-tanya pada dirinya, dan berulang-ulang berpikir kenapa ia melaksanakan ketaatan itu atau kenapa ia melibatkan dirinya dalam ketaatan. Jika ia menemukan bahwa dirinya melaksanakan ketaatan itu sematamata karena Allah, maka berarti ia telah menjadi orang yang ikhlas. Jika ia menemukan dirinya ternyata melaksanakan ketaatan karena tujuan duniawi tertentu, maka berarti ia telah menjadi orang yang riya. Nafsiyah (pola sikap) seperti ini membutuhkan penanganan secara serius, yang bisa jadi membutuhkan waktu yang lama. Jika seseorang telah sampai pada martabat, di mana ia lebih suka menyembunyikan segala kebaikannya, maka hal itu menandakan dirinya telah ikhlas. Al-Quthubi berkata; al-Hasan pernah ditanya tentang ikhlas dan riya, kemudian ia berkata, “Di antara tanda keikhlasan adalah jika engkau suka menyembunyikan kebaikanmu dan tidak suka menyembunyikan kesalahanmu.” Abû Yusuf berkata dalam al- Kharaj; Mas’ar telah memberitahukan kepadaku dari Sa’ad bin Ibrahim, ia berkata, “Mereka (para sahabat) menghampiri seorang laki-laki pada perang al-Qadisiyah. Laki-laki itu tangandan kakinya putus, ia sedang memeriksa pasukan seraya membacakan firman Allah:

Mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (TQS. an-Nisa [4]: 69)

Seseorang bertanya kepada laki-laki itu, “Siapa engkau wahai hamba Allah?” Ia berkata, “Aku adalah seorang dari kaum Anshar. Laki-laki itu tidak mau menyebutkan namanya.”
Ikhlas hukumnya wajib. Dalilnya sangat banyak, baik dari al-Kitab maupun as-Sunah.
Allah Swt. berfirman:

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (al-Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. (TQS. az-Zumar [39]: 2)

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik) (TQS. az-Zumar [39]: 3)
Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (TQS. az-Zumar [39]: 11)
Katakanlah, “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”. (TQS. az-Zumar [39]: 14)

Ayat-ayat di atas merupakan seruan kepada Rasulullah saw., hanya saja sudah dimaklumi bahwa seruan kepada Rasulullah saw. Adalah juga seruan kepada umatnya. Adapun dalil wajibnya ikhlas dari as-Sunah adalah :

Hadits dari Abdullah bin Mas’ud riwayat at-Tirmidzi dan asy- Syafi’i dalam ar-Risalah dari Nabi saw., beliau bersabda: Allah akan menerangi orang yang mendengar perkataanku, kemudian ia menyadarinya, menjaganya, dan menyampaikannya. Terkadang ada orang yang membawa pengetahuan kepada orang yang lebih tahu darinya. Ada tiga perkara yang menyebabkan hati seorang muslim tidak dirasuki sifat dengki, yaitu ikhlas beramal karena Allah, menasihati para pemimipin kaum Muslim, dan senantiasa ada dalam jama’ah al-muslimin. Karena dakwah akan menyelimuti dari belakang mereka.

Dalam pembahasan bab ikhlas ini terdapat pula hadits senada dari Zaid bin Tsabit riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya.

Juga dari Jubair bin Muth’im riwayat Ibnu Majah dan al- Hâkim. Ia berkata, “Hadits ini shahih memenuhi syarat al-Bukhâri Muslim.” Juga dari Abû Sa'id al-Khudzri riwayat Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya dan al-Bazzâr dengan isnad yang hasan. Hadits ini dituturkan pula oleh as-Suyuthi dalam al-Azhâr al-Mutanâtsirah fi al-Ahâdits al-Mutawâtirah.

Hadist dari Ubay bin Ka’ab ra. riwayat Ahmad, ia berkata dalam al-Mukhtarah, isnadnya hasan; Rasulullah saw. bersabda: Berikanlah kabar gembira kepada umat ini dengan kemegahan, keluhuran, pertolongan, dan keteguhan di muka bumi. Siapa saja dari umat ini yang melaksanakan amal akhirat untuk dunianya, maka kelak di akhirat ia tidak akan mendapatkan bagian apa pun.

Hadits dari Anas riwayat Ibnu Majah dan al-Hâkim, ia berkata hadits ini shahih memenuhi syarat al-Bukhâri Muslim, Rasulullah saw. bersabda:
Barangsiapa yang meninggalkan dunia ini (wafat) dengan membawa keikhlasan karena Allah Swt. saja, ia tidak menyekutukan Allah sedikit pun, ia melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat, maka ia telah meninggalkan dunia ini dengan membawa ridha Allah.
Hadits dari Abû Umamah al-Bahili riwayat an-Nasâi dan Abû

Dawud, Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan dilakukan karena mengharap ridha Allah semata. (al-Mundziri berkata, “Isnadnya shahih”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar