Sabtu, 25 Juli 2009

Bahasa Air Mata

by : Dr. Alwi Shihab

Banyak cara menyampaikan pesan dan aneka ragam bahasa untuk berkomunikasi. Diam seribu bahasa pun sering lebih efektif digunakan. Siti Maryam diperintahkan Allah SWT berdiam atau menggunakan simbol untuk itu (Q.S. 3: 41 dan 19: 26).

Ummu Kalsum, penyanyi tenar Mesir, pernah menyanyikan syair gubahan Ahmad Syauqi. "Lumpuh ungkapan bahasa, namun nyala tatapan mata lebih ampuh untuk mengekspresikan cintaku pada kekasih," kata Syauqi.

Di antara sekian banyak sarana komunikasi, air mata atau tangis merupakan pesan yang sangat dalam. Manusia-manusia agung pun mencucurkannya. Nabi Muhammad SAW pun mencucurkan air mata saat mencium putranya, Ibrahim, yang menghembuskan nafas terakhir. Melihat itu Abdurrahman ibn Auf tercengang dan berkata, "Engkau juga menangis wahai Rasul".
Nabi menjawab, "Ini adalah rahmat Tuhan". Sabdanya, "Air mata berlinang, hati terkoyak-koyak kesedihan, namun kami tak akan berkata kecuali yang diridhai Allah. Wahai anakku Ibrahim, sungguh kami sedih atas perpisahan ini."

Nabi Isa pun menangis. Menurut riwayat Perjanjian Baru (St. John), Mary dan Marta meminta kedatangan Yesus untuk mengobati saudara mereka, Lazarus. Ketika Yesus tiba, Mary menyampaikan bahwa Lazarus telah meninggal, sambil menangis. Yesus mencucurkan air mata. Kapan terakhir kita menangis? Dan mengapa?

Menangis adalah kenyataan biologis. Ia berfungsi sebagai sistem pembersih kornea mata. Jika air mata mengendap di balik mata, alat penglihatan akan terganggu. Binatang pun menangis, tapi mungkin hanya manusia yang mengaitkan cucuran air mata dengan respons emosional. Para ahli ilmu jiwa mendeteksi, anak kecil yang sering menangis lebih sempurna mencapai keinginannya ketimbang yang jarang menangis. Bahasa air mata perlu kita pahami. Kadang ia lebih jelas daripada bahasa kata-kata: punya aturan tertentu yang menghubungkan pikiran dan emosi lewat sarana canggih.

Menangis bersumber dari hal yang terletak jauh dalam jiwa, terkait dengan sumber spiritual manusia. Sayangnya, manusia umumnya menggunakan standar ganda dalam menghadapi budaya tangis. Hanya kaum Hawa dinilai wajar menangis. Malah, dalam kebudayaan tertentu, ia diberi tempat layak jika mencucurkan air mata pada situasi tertentu. Sebaliknya, rasa hormat diberikan ketika pria dapat menahan air mata. Bahkan, atribut ketegaran acap diberikan pada wanita saat menahan linangan air mata. Standar ganda ini dapat ditanggalkan jika kita dapat membedakan tipe-tipe tangisan.

Variasi Tangis. Air mata dapat mengucur karena faktor fisiologis, atau saat tingkat hormon tak seimbang. Air mata yang memberikan rasa lega berfungsi sebagai terapi mengatasi rasa cemas. Air mata juga melambangkan rasa kehilangan. Jangankan manusia, matinya anjing kesayangan mantan Presiden George Bush amat membekas di hati keluarga Bush. Kematian tanpa air mata dianggap anomali. Dalam kebudayaan Yunani, Cina, dan Timur Tengah, wanita bayaran untuk meratapi jenazah masih berlaku sampai kini.

Saat perpisahan, air mata mengungkapkan rasa penghargaan dan mengundang refleksi. Depresi, frustrasi, dan putus asa juga membangkitkan laju air mata. Di lain pihak, kita menangis karena tak dapat membendung kebahagiaan. Ungkapan kata amat terbatas untuk menampung rasa bahagia yang dahsyat. Kelahiran anak pertama, misalnya.

Air mata simpati akibat kesedihan yang ditimpa orang lain sering kita alami. Bahkan, kadang kita sengaja mengeluarkan uang untuk mengundang air mata itu melalui pertunjukan film. Imajinasi kita dapat membangkitkan rasa haru disusul tangisan tersedu-sedu. Ada pula tangisan bersifat menipulatif dengan cara mengundang simpati orang lain, menunjukkan penyesalan guna meringankan hukuman. Yang paling pandai menggunakannya adalah anak-anak dan mungkin juga wanita, kata Josseph Kottler dalam The Language of Tears .

Agama dan Tangis. Curahan air mata akibat penyesalan atas dosa, ketakutan akan siksaan Tuhan, atau kekhawatiran akan nasib di hari kemudian, selain kebahagiaan atas penemuan kebenaran dan kedekatan pada Tuhan, mendapat tempat terpuji dalam perbendaharaan bahasa kitab suci. Dalam literatur tasawuf, sebelum kata "Sufi" (menunjuk pada kaum yang menekankan aspek spiritual dalam hidup) populer digunakan, mereka diberi atribut al-Bakuun "yang suka menangis". Mereka dipelopori Hasan al-Basri.

Tiap kali merenungkan ayat-ayat Al-Qur'an dan ketika sorga disebut, mereka menangis tersedu-sedu sambil berharap dapat memasukinya. Dan saat siksaan neraka digambarkan, mereka pun menangis.

Pengalaman seseorang di tempat-tempat suci membangkitakan rasa syahdu, khusyuk. Umat Yahudi memiliki "Dinding Ratapan", tempat mereka meratap sambil memohon ampunan. Pun umat Kristen ketika melawat ke Jerusalem mengenang kehidupan dan perjalanan spiritual Jesus. Tak ubahnya dengan umat Islam yang berdiri di Multazam: suasana syahdu dibarengi cucuran air mata dan tangisan adalah hal biasa. Apalagi saat beraudiensi di makam Rasulullah saw di Madinah.

Dalam Al Qur’an, cucuran air mata disebut beberapa kali. Kadang menggambarkan kesedihan atas kematian (Q.S. 44: 29), atau kekhawatiran atas ancaman Tuhan (Q.S. 53: 60). Terekam pula air mata saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. saat mengelabui ayahnya, Nabi Yakub a.s. (Q.S. 12: 16). Tangis sedu, khusyuk sebagai manifestasi iman dan kehampiran pada Allah SWT (Q.S. 17:107 dan 19: 58). Sebagian umat Kristen mencucurkan air mata saat mendengarkan apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Curahan air mata dibarengi kesaksian terhadap kebenaran wahyu Ilahi (Q.S. 5: 83). Pun demikian halnya dalam Hadist, banyak kita jumpai bagaimana Rasulullah menangis jika shalat malam atau membacakan ayat2 Al Qur’an kepada sahabat2 beliau.

Mari kita merenung bersama, apa yang menjadikan air mata kita mengalir ?. Apakah cuma terbatas ketika sedih karena kehilangan, depresi karena frustrasi, atau ketidakberdayaan karena jalan buntu? Masih tertinggalkah tetesan air mata saat mendengar peringatan Tuhan, atau mengenang perjuangan Rasulullah Muhammad SAW atau rasul-rasul-Nya yang lain?

Wallahualam bissawab
--------------------------------------------------------
Dikutip tanpa izin dari Buku “Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka Dalam Beragama”
Oleh: Dr. Alwi Shihab , Cetakan kelima. Bandung: Penerbit Mizan,1999. ISBN:979-433-147-3]

Semoga Bermanfaat
Wassalamualaikum wr.wb
Imam Puji Hartono (IPH)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar