Sabtu, 25 Juli 2009

Bung Karno (Allahu Yarham) dalam Lintasan Sejarah

Assalamualaikum wr.wb
Hari ini, Haul (Peringatan) 108 Tahun Putra terbaik yang pernah lahir di Indonesia Dr.Ir.H. Soekarno (Bung Karno). Untuk mengenang beliau, saya sajikan Lintasan singkat Perjuangan Bung Karno yang patut kita teladani yang baik2 tentunya.

Ya Rabb, hari ini tepat 108 tahun lalu Engkau ciptakan Ayahanda kami, Bapak Bangsa Kami, Bung Karno. Ya Allah kini beliau sudah meninggal hampir 39 tahun lalu. Ampuni dosa2nya ya Rabb, maafkan segala kekhilafannya, lipatgandakan segala amal baik yang pernah ia kerjakan, Lapangkan dan terangkan alam kuburnya, ganti rumahnya dengan rumah yg lebih baik, lindungi ia dari siksa kubur dan api neraka. Terimalah ia disisiMU dengan RahmatMu Ya Allah" Amiin 3 X

Al Fatehah..........................


Kelahiran dan masa muda

Memasuki abad ke-20 bumi Nusantara masih berada dalam cengkraman p enjajahan Belanda. Di awal abad ini pula bersamaan dengan terbitnya fajar pada tanggal 6 Juni 1901, seorang bayi yang ditakdirkan menjadi pemimpin besar lahir di sebuah kota pelabuhan yang sangat sibuk. Sebuah kota industri yang aktif dalam perdagangan kopi, teh, gula, dan tembakau. Nama kota itu Surabaya, terletak di bagian timur pulau Jawa.

Adalah pasangan Idayu dan Soekemi yang dikaruniai bayi itu, mereka memberinya nama Kusno. Di masa kecilnya Kusno sering sakit-sakitan. Sesuai dengan kepercayaan orang jawa, menjelang dewasa Soekemi mengganti nama anaknya jadi Soekarno.

Nama lengkap Idayu adalah Ida Ayu Nyoman Rai keturunan bangsawan kerajaan Singaraja Bali, sedangkan ayahnya Raden Soekemi Sosrodihardjo keturunan bangsawan Jawa. Soekemi berprofesi sebagai mantri guru sekolah rakyat. Ia mempunyai dua orang anak, Soekarno dan kakak perempuannya yang berumur dua tahun lebih tua bernama Sukarmini. Sebagai pegawai negeri tingkat rendah keadaan ekonomi keluarganya cukup sulit namun bila dibandingkan dengan kebanyakan rakyat Indonesia saat itu, tidak bisa dibilang melarat. Ketika Soekarno masih kecil, Soekemi memboyong keluarganya pindah ke Mojokerto sebuah kota di selatan Surabaya.

Soekarno kecil tumbuh dari kasih sayang sang ibu dan kedisiplinan sang ayah. Disamping itu ia mempunyai pengasuh yang sangat menyayanginya seperti ibu sendiri, bernama Sarinah. Soekarno kecil dimasukkan ke sekolah bumiputera. Menginjak umur 14 tahun, ia dipindahkan bapaknya ke sekolah Belanda. Alasannya agar Soekarno bisa melanjutkan studi ke sekolah tinggi Belanda, karena sekolah pribumi tidak ada lanjutannya. Peraturan kolonial memberikan hak istimewa kepada setiap pegawai negeri di Hindia Belanda untuk menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah Belanda. Masuklah ia ke Europeesche Lagere School (ELS). Berhubung kemampuan bahasa Belanda-nya kurang memadai, ia harus duduk setingkat lebih bawah dari kelas yang sudah dicapainya di sekolah bumiputra.

Setelah menggondol ijazah sekolah rendah Belanda, ayahnya mengirim Soekarno ke Surabaya untuk melanjutkan sekolah di Hoogere Burger School (HBS). Di sana ia dititipkan di rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto, tokoh politik yang juga teman ayahnya. Tjokro pemimpin Syarikat Islam, keadaan ekonominya tidaklah berlebih. Rumahnya terletak tidak jauh dari sebuah kali di sebuah perkampungan yang penuh sesak. Bukan rumah yang bagus, bertingkat dua disekat menjadi sepuluh kamar sempit. Sebagian kamarnya ditinggali beberapa orang yang numpang bayar makan. Soekarno menempati sebuah kamar sempit yang tidak berjendela dan berdaun pintu di loteng rumah Tjokro. Keadaannya gelap sehingga siang hari pun ia terpaksa harus menyalakan lampu. Di dalamnya terdapat sebuah meja tulis reyot tempat menyimpan buku, satu buah kursi, dan sebuah tikar tanpa kasur maupun bantal. Di tempat itulah Soekarno muda melewatkan dunianya selama belajar di HBS.

Sungguh beruntung Soekarno bisa tinggal di rumah tokoh pergerakan yang berpengaruh. Rumah Tjokroaminoto merupakan titik awal tumbuhnya kesadaran politik Soekarno muda. Ia sadar kalau negeri dan rakyatnya berada dalam belenggu penjajahan Belanda. Ia melihat bagaimana seorang Tjokro berjuang melepaskan belenggu itu. Pada diri Tjokro ia menemukan seorang pemimpin, guru, dan teladan yang sangat dimuliakannya. Di rumah ini jiwa nasionalisnya tumbuh, ia tidak rela rakyatnya dihinakan oleh bangsa penjajah.

Rumah itu sering dikunjungi tamu Tjokro untuk memperbincangkan masalah-masalah politik. Beberapa orang dari tamu itu antara lain Alimin dan Muso, yang dikemudian hari menjadi tokoh dalam sejarah Indonesia. Soekarno merasa sangat tertarik dengan apa yang selalu mereka perbincangkan. Dalam suatu kesempatan ia ikut nimbrung. Banyak hal yang didapatkan Soekarno muda dari perbincangan-perbincangan mereka. Alimin memperkenalkan Marxisme kepadanya. Saking senangnya dengan wacana politik, Soekarno terkadang rela berbagi kamar dengan salah satu tamu yang menginap. Di kamarnya terkadang ia berdiskusi untuk mereguk pengetahuan dari mereka sampai fajar tiba. Rupanya Tjokro merasa senang dengan Soekarno. Tjokro mulai memperhatikan anak muda itu. Diberikannya berbagai buku-buku yang ia miliki sebagai hartanya yang paling berharga pada anak muda itu. Tak lama Soekarno pun larut dalam dunia pemikiran.

Di usianya yang ke-16, Soekarno mendirikan perkumpulan pertamanya yaitu Trikorodarmo yang berarti tiga tujuan suci. Trikorodarmo melambangkan kemerdekaan ekonomi, politik, dan sosial yang didamba-dambakannya. Perkumpulan itu merupakan suatu organisasi sosial bagi pelajar seusianya. Dikemudian hari ia aktif diorganisasi Jong Java (Perkumpulan pemuda Jawa) yang mempunyai cakupan lebih luas lagi.

Soekarno tumbuh dewasa di bawah asuhan Tjokro. Ia sangat mencintai gurunya ini. Kemudian hari keluarga Tjokroaminoto dilanda duka. Istrinya meninggal dunia. Tak lama setelah itu mereka sekeluarga pindah rumah. Di rumah barunya Tjokro terlihat murung dan tidak berbahagia. Melihat pemimpin yang dimuliakannya dalam kondisi seperti itu Soekarno merasa iba. Ia bertekad untuk menolongnya, apapun caranya. Sampai suatu saat seseorang memberitahukan bahwa Tjokro merasa khawatir dengan masa depan putrinya. Ia menyarankan agar Soekarno mau memperistri Siti Utari putri Tjokro yang paling tua. Walaupun sebenarnya Soekarno hanya mencintai Utari seperti mencintai adiknya sendiri, demi Tjokro ia rela mengawininya. Pada usianya yang kedua puluh ia mengawini Siti Utari yang saat itu baru berusia 16 tahun.

Setelah melangsungkan perkawinannya pada tanggal 10 Juni 1921, Soekarno lulus dari HBS. Sebagaimana lulusan HBS pada umumnya, ia berniat melanjutkan studi ke universitas di negeri Belanda. Namun Ibunda Soekarno tidak menghendaki anaknya belajar di negeri Belanda. Akhirnya Soekarno mengalah pada keinginan ibunya. Ia melanjutkan studi ke Technische Hooge School (THS) di Bandung (sekarang bernama Institut Teknologi Bandung).

Marhaenisme

Akhir minggu ketiga di bulan Juni 1921 Soekarno menginjakkan kakinya di Bandung. Udara di kota ini lebih dingin dibandingkan Surabaya, suasananya cocok sebagai kota pelajar. Dalam waktu yang singkat Soekarno sudah merasa betah di kota itu.

Di Bandung ia bersama istrinya numpang tinggal di rumah Haji Sanusi, salah satu kenalan Tjokro. Kehidupan rumah tangganya dengan Utari tidak begitu baik. Memang tidak ada pertengkaran mendalam di antara keduanya, namun hubungannya dingin dan hambar. Di sisi lain, dalam rumah itu ada istri Haji Sanusi bernama Inggit Garnasih. Semakin hari Soekarno dan Inggit semakin akrab. Hingga tumbuhlah perasaan cinta diantara keduanya.

Di masa-masa kuliahnya pada jurusan teknik sipil di THS, perhatian Soekarno pada politik tidaklah surut. Di kota ini refleksi pemikirannya mulai terbentuk. Menurutnya rakyat Indonesia tidak termasuk dalam salah satu penggolongan dalam teori politik mana pun. Dari kenyataan yang dilihatnya, kebanyakan rakyat Indonesia mempunyai kekhasan tersendiri. Mereka bukan proletar sebagaimana ajaran Karl Marx.

Suatu hari Soekarno mengayuh sepedanya ke arah selatan kota Bandung melewati daerah pesawahan. Di sepanjang jalan ia melihat para petani menggarap sawahnya. Tidak begitu luas, setiap petani menggarap kira-kira sepertiga hektar sawah. Perhatiannya tertuju pada seorang petani muda berbaju lusuh sedang mencangkuli sawahnya. Soekarno menghentikan laju sepedanya kemudian menghampiri petani itu, ia bercakap-cakap dengannya.

Seperti yang ia tuturkan dalam otobiografinya di kemudian hari, kepada petani tadi Soekarno menanyakan “Siapa yang mempunyai semua yang engkau kerjakan?”
“Saya Juragan” jawab petani itu.
“Apakah engkau memiliki tanah ini bersama-sama dengan yang lain?”
“Tidak, Gan. Saya sendiri yang punya”
Kemudian Soekarno bertanya lagi sambil menunjuk peralatan si petani “Apakah sekop itu kepunyaanmu?”
“Ya, Gan” jawabnya.
“Dan cangkul itu?”
“Ya, Gan”
“Bajak?”
“Saya punya”
“Untuk siapa hasil yang kau kerjakan?”
“Saya sendiri”
“Apakah cukup untuk kebutuhanmu sendiri?”
Petani itu mengangkat bahunya, seolah ingin mengatakan sawah yang kecil ini tentu saja tidak cukup memadai. “Apakah kamu mempekerjakan orang?” Soekarno mengajukan pertanyaan lagi.
“Tidak juragan, saya tidak dapat membayarnya”
“Apakah engkau pernah memburuh?”
“Tidak Gan, jerih payah saya semuanya untuk saya”
Lalu Soekarno menanyakan nama petani itu, ia menjawabnya “Marhaen”.

Soekarno berpikir, orang-orang semacam itu tidak bisa digolongkan kedalam kaum proletar karena dia punya alat produksi sendiri, tapi mereka miskin dan serba kekurangan. Ia menyimpulkan bahwa orang seperti itulah yang paling banyak di tanah airnya. Kemudian dengan pengertian yang diperluas, ia menyebut kebanyakan dari rakyat miskin di Indonesia dengan nama petani muda tadi, yaitu “Marhaen”.
Soekarno menyatakan bahwa Marhaen adalah orang yang mempunyai alat-alat yang sedikit, orang kecil dengan milik kecil, dengan alat-alat kecil, sekedar cukup untuk dirinya sendiri. Menurut pandangannya bangsa Indonesia yang puluhan juta jiwa itu, bekerja bukan untuk orang lain dan tidak ada orang bekerja untuk mereka. Tidak ada penghisapan tenaga seseorang oleh orang lain. “Marhaenisme adalah sosialisme Indonesia dalam praktek” pikirnya.

Di tahun 1922 Soekarno menceraikan Utari dan mengembalikannya ke rumah orang tuanya. Setahun kemudian Inggit meminta cerai dengan suaminya. Karena hubungannya sudah lama retak, Haji Sanusi menceraikan istrinya. Setelah keduanya bercerai, Soekarno menikahi Inggit perempuan yang sepuluhan tahun lebih tua dari dirinya. Bersama Inggit, Soekarno mengarungi perjuangannya yang panjang dan berliku.
Aktivitas Soekarno dalam perpolitikan semakin menjadi-jadi. Beberapa kali ia ditegur pihak universitas untuk mundur dari masalah politik agar lebih berkonsentrasi ke studinya. Namun teguran itu tak dihiraukannya. Studinya terlantar, dalam mata pelajaran ilmu pasti nilainya jeblok. Walaupun begitu pada tanggal 25 Mei 1926, ia berhasil lulus dari THS.

Selepas kelulusannya, Soekarno menolak bekerja di pemerintahan kota ataupun mengerjakan proyek-proyek pemerintah. Ia lebih memilih serius di pergerakannya. Namun karena desakan ekonomi ia bekerja sebagai guru. Profesi itu tidak lama dialaminya, seorang penilik sekolah menganggap Soekarno telah meracuni siswanya dengan cerita-cerita yang menggelorakan pergerakan. Tak lama setelah itu bersama teman satu kelasnya semasa di THS, ia mendirikan biro arsitek. Karena kesibukannya dalam berpolitik ia tidak mengurusi biro arsiteknya. Hingga pada akhirnya bangkrut. Untuk menopang perekonomian keluarganya, kamar-kamar di rumah Inggit yang ditinggalinya disewakan kepada orang yang numpang bayar makan.

Disisi lain aktivitas politiknya semakin matang. Soekarno bertekad untuk mengeluarkan bangsanya dari kubangan penjajahan dan membawanya ke alam kemerdekaan sesegera mungkin. Tanggal 4 Juli 1927, Soekarno mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) dibantu enam orang kawannya dari Algemeene Studieclub, suatu kelompok orang-orang terpelajar waktu itu. Setahun kemudian pada bulan Mei, PNI menjadi Partai Nasional Indonesia. Dengan wadah PNI aktivitasnya semakin meluas, ia berpidato di mana-mana, membakar semangat rakyatnya, dan jaringannya pun bertambah luas. Ia dikenal sebagai singa podium. Pemerintah Hindia Belanda merasa gerah, Soekarno dimasukkan kedalam daftar hitam orang yang paling dicari.

Di tahun 1928, Soekarno ikut mengikrarkan sumpah pemuda. Dimana para pemuda di Hindia Belanda berikrar menyatakan satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa yaitu Indonesia. Pemerintah Hindia Belanda melalui kepolisiannya lebih memperketat untuk mengawasi gerak-gerik Soekarno.
Pada suatu hari Soekarno harus menghadiri rapat umum di Solo. Dalam rapat itu ia meneriakan kembali anti imperialisme dan kolonialisme. Rapat selesai tengah malam. Kemudian Soekarno menginap di rumah Sujudi, seorang pengacara yang juga anggota PNI Yogyakarta.

Menjelang pagi hari rumah Sujudi di Yogyakarta dikepung polisi, mereka menggedor-gedor pintu rumah. Polisi datang untuk melakukan penangkapan atas Soekarno. Hari itu tepatnya tanggal 9 Desember 1929, ia bersama dengan beberapa orang lainnya diringkus polisi. Mereka dibawa ke Bandung, dan dijebloskan ke Rumah Penjara Banceuy.

Penjara dan pengasingan

Banceuy adalah rumah tahanan tingkat rendah, keadaannya bobrok dan kotor. Penjara itu didirikan di abad ke-19. Selnya dibagi dua, untuk tahanan politik dan kriminal biasa. Soekarno ditahan di Blok-F kamar nomor 5, sedangkan Gatot Mangkupradja wakil PNI yang ditangkap bersamanya ditempatkan di kamar nomor 7. Sehari kemudian datang tahanan dari anggota PNI lainnya yaitu Maskun dan Supriadinata. Bersamaan dengan ditangkapnya orang-orang ini, polisi melakukan razia besar-besaran di seluruh Jawa. Ribuan orang telah ditahan di antaranya 40 pimpinan PNI. Secara formal mereka dituduh mengambil bagian dalam suatu organisasi yang merencanakan pemberontakan dan berusaha menggulingkan pemerintahan Hindia Belanda yang akan dilaksanakan di awal tahun 1930-an. Soekarno dianggap tokoh kuncinya.

Dalam menghadapi pengadilannya, Soekarno menyiapkan naskah pembelaan dari dalam sel. Ia menulis di atas sebuah pispot yang ditutupi papan tipis sebagai mejanya. Naskah itu diberi judul “Indonesia Menguggat”. Naskah itu kemudian diterjemahkan kedalam berbagai bahasa dan disebarkan ke berbagai negara.

Setelah delapan bulan di penjara, pada tanggal 18 Agustus 1930, tiba waktunya Soekarno maju ke pengadilan. Di hadapan hakim ia menyatakan pidato pembelaannya selama berjam-jam. Ruang sidang yang penuh sesak oleh pengunjung itu hening. Hanya Soekarno seorang yang berbicara. Dalam pidatonya ia menolak tuduhan akan merencanakan pemberontakan bersenjata. Menurutnya perjuangan yang ia lakukan tidak melanggar batas undang-undang apa pun. Ia mengusahakan kemerdekaan, melawan imperialisme dan kolonialisme dengan cara damai. Modusnya menyusun gerakan dan kekuatan secara legal. Tidak dengan pasukan atau serdadu dan sejumlah senjata. Satu-satunya dinamit yang ditanamkannya adalah penderitaan rakyat. Suatu yang wajar baginya jika rakyat menuntut keadilan dan persamaan hak-haknya. Pembelaannya mendapat sambutan yang sangat luas dari rakyat.

Rupanya penahanan ini sudah direncanakan sebelumnya oleh pihak Belanda. Pada akhirnya hakim tetap menjatuhkan vonis bersalah pada Soekarno dan kawan-kawannya. Soekarno mendapat vonis hukuman selama empat tahun. Ia mengajukan banding, namun pengadilan tinggi tetap mengukuhkan hukuman itu. Dari Banceuy mereka dipindahkan ke penjara yang bertembok tinggi yaitu penjara Sukamiskin di Bandung.

Di penjara Sukamiskin ia ditempatkan di kamar nomor 233 dipisahkan dari tahanan lainnya. Gerak-geriknya selama dipenjara selalu di awasi, ia tidak diperkenankan berhubungan dengan tahanan lainnya. Untuk mengusir rasa sepinya ia banyak mempelajari dan membaca buku-buku agama. Ia dilarang mendapatkan informasi dari dunia luar. Namun secara sembunyi-sembunyi dan dengan berbagai trik, ia berhasil mendapatkan informasi yang diinginkannya. Ia mendapat informasi bahwa PNI dibubarkan pada tanggal 25 April 1931. Kemudian para anggotanya terpecah belah mejadi dua kubu. Alangkah kecewanya Soekarno saat itu. Ia tak kuasa melihat “anak” yang dilahirkannya terpecah belah.

Setelah bubar sebagian dari mantan anggota PNI mendirikan Partai Indonesia (Partindo). Tidak seperti PNI, Partindo kurang mendapat dukungan masa yang banyak, mengingat tiadanya tokoh kharismatik di partai tersebut. Kemudian Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir, dua orang sarjana lulusan universitas di negeri Belanda, mengeluarkan gagasan bahwa untuk mencapai tujuan bersama harus dibentuk organisasi yang menitik beratkan pada pendidikan. Mereka mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI), yang dikenal sebagai PNI baru. Waktu itu Hatta bersikap lebih baik menjalankan perjuangan melalui pendidikan praktis untuk rakyat, daripada mengandalkan kharisma pribadi dari satu orang pemimpin. Dengan jalan demikian, kalau para pemimpin kuncinya tidak ada, partai akan tetap berjalan dengan pimpinan bawahan yang sudah sadar betul arti perjuangan.

Sementara itu “Indonesia Menguggat” semakin banyak dibaca oleh pengadilan-pengadilan di negera lain. Kritik terhadap pengadilan Soekarno berdatangan. Para ahli hukum ramai membicarakannya. Dengan tekanan dari berbagai pihak, Gubernur Jenderal Hindia Belanda mengurangi hukuman Soekarno menjadi dua tahun. Pada tanggal 31 Desember 1931 Soekarno dibebaskan.

Sekeluarnya Soekarno dari penjara, ia berusaha sekuat tenaga untuk menyatukan kembali Partindo dan PNI baru. Namun pihak Hatta tetap pada pendiriannya untuk membuat partai kader. Sedangkan Soekarno menganggap gagasan Hatta itu terlalu lamban untuk sebuah pergerakan. Dengan cara seperti itu ia tidak yakin bisa membawa Indonesia merdeka sesegera mungkin. Akhirnya mereka mengambil jalan masing-masing. Pada tanggal 28 Juli 1932, Soekarno masuk Partindo dan terpilih menjadi ketuanya. Dengan kendaraan barunya ia meneruskan cita-cita PNI, partainya yang lama. Ia mulai lagi berpidato di sana-sini menggelorakan semangat kemerdekaan kepada rakyatnya.

Selain berpidato, Soekarno bersama Maskun memimpin surat kabar ‘Fikiran Rakjat’ yang dikerjakan di rumahnya. Suatu saat ia membuat pamflet yang berjudul ‘Mencapai Indonesia Merdeka’. Beberapa saat setelah diedarkan, pamflet ini dinyatakan terlarang dan disita pemerintah. Masih di tahun 1932, hari pertama bulan Agustus, Soekarno mengadakan pertemuan pimpinan di rumah Thamrin di Jakarta. Lewat tengah malam pertemuan itu selesai. Keluar dari rumah Thamrin, seorang komisaris polisi menghadang Soekarno dan melakukan penangkapan terahadap dirinya. Untuk kedua kalinya Soekarno ditangkap. Selama delapan bulan ia dikurung kembali di Sukamiskin. Kemudian pada tanggal 1 Oktober 1933 ia dikeluarkan dan dibuang ke Endeh di pulau Flores.

Di pengasingannya ia ditemani istrinya Inggit Garnasih, kemenakan Inggit yang juga anak angkatnya Ratna Djuami, dan mertuanya Ibu Amsi. Waktu itu Endeh masih merupakan suatu kota kecil yang sepi dengan penduduk lima ribuan. Keadaannya masih terbelakang, rakyatnya kebanyakan hidup dari nelayan atau petani kelapa. Ia tinggal di kampung Ambugaga, rumah-rumahnya masih beratap ilalang. Tidak banyak yang bisa ia lakukan disana. Dua kali dalam sebulan ia mendapatkan surat kabar dan diberi kesempatan untuk berkorespondensi. Di tempat ini ia mempunyai kesempatan memperdalam ilmu agama. Untuk itu ia sering berkirim surat dengan Ahmad Hassan, ulama dan juga tokoh Persatuan Islam di Bandung.

Semasa di Endeh ia mengalami dua kali masa duka. Pertama, mertuanya meninggal. Setelah itu ia mendapat kabar Tjokroaminoto sakit keras, kemudian meninggal. Untuk mengusir kesepiannya, Soekarno menyibukkan diri dalam kesenian. Ia mencoba membuat kelompok sandiwara, dimana ia menuliskan naskahnya, menjadi sutradaranya, dan mengatur pertunjukannya. Walaupun bebas berkeliaran, disana ia dijaga amat ketat. Ada jarak tertentu dimana ia tidak boleh berkeliaran melebihi batas itu.

Pada suatu hari ia merasakan badannya tidak enak. Dokter mengatakan Soekarno terserang penyakit Malaria tropika yang mematikan. Semakin hari keadaannya semakin parah. Kabar ini rupanya sampai ke Jakarta. Thamrin salah satu temannya yang duduk di dewan rakyat mengajukan protes. Ia menyatakan pemerintah Hindia Belanda harus bertanggung jawab terhadap keselamatan Soekarno. Ia menuntut agar Soekarno segera dipindahkan ke tempat yang lebih besar dan lebih sehat. Protesnya mendapat respon dari Den Hag. Bulan Februari 1938 Soekarno dipindahkan dari Endeh.

Pembuangan berikutnya adalah Bengkulu di pulau Sumatra. Di Bengkulu Soekarno ditemani, Inggit, Ratna Djuami, Riwu dan Sukarti. Laki-laki yang bernama Riwu adalah seorang pelayan setia Soekarno semasa di Endeh. Ketika Soekarno dipindahkan, Riwu berkeras ingin mendampingi majikannya kemana pun ia pergi. Sedangkan Sukarti adalah anak perempuan yang ditemukannya di Endeh dan dijadikan anak angkat oleh Soekarno. Memang Soekarno senang kepada anak-anak. Sudah dua puluh tahun ia menikah, namun tidak dikaruniai seorang anak pun. Secara naluriah Soekarno menjadi dekat dengan anak-anak.

Pada suatu hari Soekarno didatangi Pak Hassan Din ketua Muhammadiyah setempat. Muhammadiyah merupakan organisasi Islam modernis yang berpengaruh. Pak Din melihat kedekatan Soekarno dengan anak-anak. Ia meminta Soekarno untuk menjadi salah satu guru di sekolah Muhammadiyah. Syaratnya tidak mengajarkan politik. Pak Din mengetahui selama di Endeh, Soekarno banyak berhubungan dengan Ahmad Hassan ulama ternama dari Bandung. Oleh karena itu ia tidak menyangsikan ilmu agama yang dikuasai Soekarno. Tawaran itu diterima Soekarno. Berkat mengajar di sekolah Muhammadiyah Soekarno berkenalan dengan Fatmawati, salah seorang siswanya. Dari perkenalan tersebut rupanya ia jatuh hati pada gadis belia itu.

Pada tahun-tahun itu berkobar perang di Eropa. Jerman dengan tentara Nazi-nya menyerang dan menduduki Belanda. Tahun-tahun berikutnya perang melebar ke Asia Timur. Jepang sudah bergerak menyerang negara-negara tetangganya. Sampailah perang tersebut ke wilayah Hindia Belanda. Jepang berusaha merebut kekuasaan Hindia Belanda. Akhirnya pada tanggal 12 Februari 1942, Jepang menyerang Sumatra. Mereka pertamakali mendarat di Palembang Sumatra Selatan. Pasukan Jepang terus mendesak ke Bengkulu. Tentara Belanda tidak melakukan perlawanan yang berarti, mereka lari tunggang langgang. Namun Soekarno tetap berada dalam pengawasan Belanda.

Belanda berpikir jangan sampai Soekarno dibebaskan Jepang. Tentara Jepang semakin mendesak ke Bengkulu. Beberapa polisi Belanda berusaha membawa lari Soekarno, Inggit, Sukarti, dan Riwu ke Padang Sumatra Barat. Sesampai di Padang keadaan sudah kacau, kota ditinggalkan para pedagang, semua Belanda lari tunggang langgang. Begitupun dengan para polisi yang mengawal Soekarno. Orang-orang berlarian dalam keadaan panik. Kemudian Soekarno menemui salah satu temannya di kota Padang, namanya Waworuntu.

Waworuntu membawa keluarga Soekarno ke rumahnya. Kemudian ia dan Soekarno menghubungi organisasi dagang setempat untuk mengumpulkan orang sebanyak-banyaknya. Setelah itu Soekarno berpidato dan menghimbau rakyat agar tidak mengadakan perlawanan ke pihak Jepang, mengingat kekuatan yang ada tidak sebanding. Sehari kemudian tentara Jepang tiba di kota Padang, dengan suara yang bergemuruh kendaraan lapis baja Jepang berdatangan. Balatentaranya berbaris memasuki kota Padang. Tak lama setelah itu, pada tanggal 9 Juli 1942 seluruh Hindia Belanda menyerah tanpa perlawanan berarti kepada tentara Jepang. Secara otomatis Soekarno bebas dari penahannya.

Revolusi kemerdekaan

Empat hari setelah pendaratan pasukan Jepang di kota Padang, Soekarno diundang Kolonel Fujiyama, komandan militer pendudukan Jepang di kota Bukitinggi. Ia memenuhi undangan itu. Mereka bertemu di sebuah rumah besar dan megah yang ditinggalkan orang Belanda di Bukit Tinggi.

Dalam pertemuan itu Fujiyama mengharapkan sikap kooperatif Soekarno kepada pemerintahan militer Jepang. Fujiyama menjanjikan, jika rakyat Indonesia mau menyokong tentara Jepang, niscaya pemerintahan Jepang akan memberikan kemerdekaan penuh kepada Indonesia. Soekarno mengalami dilema yang sangat hebat. Di satu sisi ia tidak rela rakyatnya diperbudak oleh Jepang, di sisi lain ia melihat jalan menuju kemerdekaan semakin terbuka. Dengan hati yang berat, akhirnya ia menerima tawaran Kolonel Fujiyama yang berarti memilih menggunakan jalur kooperatif terhadap pendudukan Jepang.

Di masa pendudukannya, Jepang membagi wilayah Hindia Belanda kedalam tiga zona admisnistratif. Sumatara di bawah tentara ke-25 bermarkas di Singapura, Jawa di bawah tentara ke-16 bermarkas pusat di Jakarta, sedangkan daerah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Sunda Kecil dibawah angkatan laut. Begitu Jawa berhasil ditaklukan, pemerintahan militer Jepang meminta kesediaan Soekarno untuk melakukan tugas-tugasnya di Jawa. Bagi Soekarno, kembali ke Jawa artinya kembali kepada kawan-kawan pergerakannya. Ia menerima tawaran Jepang untuk kembali ke Jawa, di sana ia bisa menyusun strategi pergerakannya.

Soekarno meninggalkan Sumatra bersama dengan Inggit, Sukarti, dan Riwu. Ia menyeberang melalui Palembang dengan perahu motor kecil menuju Jakarta. Setibanya di Jakarta ia disambut Anwar Tjokroaminoto, Hatta, dan Sartono. Bersama Hatta dan nasionalis lainnya, Soekarno mulai merancang strategi perjuangannya. Memang di waktu-waktu yang telah lalu ada pertentangan pendapat yang mendalam antara Soekarno dengan Mohammad Hatta. Sampai pada suatu hari Soekarno, Hatta, dan Sjahrir mengadakan pertemuan di rumah Hatta. Ditempat itu Soekarno dan Hatta berikrar untuk selalu bersatu meskipun terdapat perbedaan diantara keduanya sampai Indonesia merdeka, mereka menyatakan sebagai dwitunggal. Selanjutnya mereka bersepakat untuk mengambil strategi berkolaborasi dengan Jepang. Diantara yang hadir hanya Sjahrir yang merasa keberatan, ia sangat membenci Jepang yang fasis itu.

Mereka membagi tugas perjuangan dengan dua cara. Dengan cara terang-terangan berkolaborasi dengan Jepang dan dengan cara menyusun gerakan bawah tanah. Soekarno dan Hatta mengambil cara terang-terangan sedangkan Sjahrir memimpin gerakan bawah tanah.

Keseokan harinya setelah pertemuan itu, Soekarno dipanggil Letnan Jenderal Imamura komandan tentara ke-25. Imamura mendesak Soekarno untuk berkolaborasi dengan Jepang. Seperti rencananya semula tawaran itu disambut oleh Soekarno. Tak lama setelah itu pada tanggal 9 Maret 1943 pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA), Soekarno dipilih menjadi ketuanya. Pemerintah Jepang berharap PUTERA bisa mendorong rakyat Indonesia ke garis belakang peperangan mereka dengan sekutu, dan menyokong segala kebutuhan angkatan perang Jepang. Sedangkan bagi Soekarno, PUTERA dimanfaatkan untuk menggelorakan semangat kemerdekaan dan nasionalisme ditengah-tengah rakyatnya dengan cara yang paling aman tanpa perlu waswas ditangkap penguasa.

Cara yang diambil Soekarno banyak mendapatkan cemoohan, ia dianggap seorang kolaborator. Namun ia bersikukuh pada pendiriannya, bahwa dengan cara demikian kemerdekaan semakin mudah diperjuangkan. Soekarno makin dikenal oleh rakyatnya.

Di sisi lain, kehidupan rumah tangganya mulai goncang. Rupanya Soekarno masih menyimpan hati kepada Fatmawati, gadis yang dikenalnya semasa pembuangan di Bengkulu. Inggit mengetahui keadaaan itu, ia tidak bisa menerimanya. Akhirnya Inggit meminta cerai kepada Soekarno. Mereka berpisah, Inggit kembali ke kampung halamannya di Bandung. Tidak lama setelah itu keinginan Soekarno untuk menjalin perkawinan dengan Fatmawati terlaksana. Bulan Juni 1943 mereka menikah. Setahun setelah pernikahannya, apa yang diidam-idamkan Soekarno untuk mempunyai keturunan akhirnya datang juga. Fatmawati melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Guntur.

Sebagai ketua PUTERA, Soekarno mendesak Jepang dengan konsesi-konsesi yang lebih luas dalam pemerintahan. Pada bulan September 1943, pemerintahan Jepang di Jakarta membentuk Badan Pertimbangan Pusat di bawah pimpinan Soekarno. Lembaga ini berfungsi seperti Volksraad, dewan rakyat semasa pendudukan Belanda. Bersama dengan PUTERA lembaga ini menyokong pembentukan angkatan militer sukarela dari putera-putera Indonesia. Angkatan bersenjata ini bernama Pembela Tanah Air (PETA) yang kelak dikemudian hari menjadi embrio dari angkatan bersenjata Indonesia.

Dalam kancah peperangannya melawan sekutu, keadaan Jepang semakin melemah. September 1944, perdana menteri Koiso di depan parlemen Jepang mengumumkan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dalam waktu singkat. Kemudian pada tanggal 1 Maret di tahun yang sama Jepang membentuk Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), suatu badan untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

BPUPKI menggelar sidangnya yang pertama pada tanggal 1 Juni 1945. Dalam sidang itu Soekarno berpidato mengenai lima prinsip dasar dalam bernegara yang terkenal dengan sebutan Pancasila. Lima prinsip itu antara lain kebangsaan Indonesia atau nasionalisme, perikemanusiaan atau internasionalisme, musyawarah atau demokrasi, keadilan sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dari lima dasar itu ia menyimpulkan lagi menjadi tiga. Kebangsaan dan perikemanusiaan diperas menjadi sosio-nasionalisme, demokrasi dan keadilan sosial menjadi sosio-demokrasi, dan yang ketiga tetap ketuhanan. Prinsip ini hampir sama dengan gagasan beberapa tahun sebelumnya dimana ia pernah mempopulerkan Nasionalisme-Islam-Marxisme yang dikemudian hari lebih dikenal dengan istilah Nasional-Agama-Komunis (NASAKOM).

Semakin hari posisi Jepang semakin terdesak oleh sekutu. Pemerintah Jepang di Indonesia memutuskan untuk menjalankan langkah-langkah kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 8 Agustus, Jepang membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Bersamaan dengan itu, panglima angkatan ekspedisi Jepang Marsekal Terauchi memerintahkan Soekarno untuk menemuinya di Dalat, kota kecil di dekat Saigon. Keesokan harinya Soekarno, Hatta dan Rajiman Wedioningrat berangkat. Di Dalat ketiga orang itu di beritahu oleh Marsekal Terauchi bahwa Jepang akan memberikan kemerdekaannya kepada Republik atas daerah jajahan Hindia Belanda pada tanggal 18 Agustus 1945. Sebelum ke Jakarta mereka singgah di Singapura dan baru tahu bahwa Jepang sudah diambang kekalahannya. Dua kota industri yang padat yaitu Nagasaki dan Hirosima telah dibom oleh pasukan Amerika. Tanggal 14 Agustus Soekarno bersama teman-temannya tiba di Jakarta.

Saat itu situasi di Jakarta sudah berkembang menjadi sangat ruwet. Timbul keragu-raguan dalam diri Soekarno untuk melakukan strategi selanjutnya. Apakah Jepang mempunyai cukup waktu untuk menyerahkan kemerdekaan? Tidak mungkin baginya untuk menunggu keputusan Jepang, sedangkan di sisi lain sekutu sudah mendesak ke wilayah-wilayah pendudukan Jepang.

Waktu itu Soekarno tetap pada pendiriannya, ia memilih untuk menunggu sampai pertemuan PPKI yang dijadwalkan pada tanggal 16 Agustus. Namun mendapat tentangan dari kelompok Sjahrir dan golongan pemuda. Mereka tidak rela menerima proklamasi kemerdekaan yang disponsori Jepang. Menurut para pemuda, proklamasi kemerdekaan itu harus dikumandangkan dengan segera tidak usah meminta persetujuan Jepang.

Para pemimpin kelompok pemuda di antaranya Sukarni dan Adam Malik, mendatangi rumah Soekarno dan mendesak untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Namun Soekarno bersikukuh pada pendapatnya. Para pemuda pulang dengan tangan hampa, mereka tidak berhasil memaksa Soekarno. Keesokan harinya, pada tanggal 16 Agustus sebelum matahari menyingsing dari ufuk timur dua mobil beriringan mendekati rumah Soekarno. Mobil tersebut berisi kelompok pemuda yang tempo hari mendatangi Soekarno. Mereka membangunkan Soekarno, Fatmawati, dan Guntur anaknya yang masih kecil. Mereka menculik dan membawa pemimpin nasionalis itu ke suatu tempat yang dirahasiakan. Selanjutnya iring-iringan itu menculik Mohammad Hatta untuk dibawa dalam rombongan.

Kendaraan melaju keluar Kota Jakarta, menuju ke Rengasdengklok. Di tempat itu para pemuda kembali mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklasikan kemerdekaan. Sekali lagi para pemuda gagal mendesak para pemimpin nasional. Dalam kebuntuan tersebut, Soebardjo salah seorang angkatan muda menyampaikan kepastian bahwa Jepang sudah menyerah dan menjanjikan keterlibatan Laksamana Maeda dalam suatu deklarasi kemerdekaan. Laksamada Maeda adalah perwira Jepang yang bersimpati terhadap perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia. Kemudian rombongan kembali ke Jakarta menuju ke rumah Maeda.

Menjelang pukul 10 malam, mereka tiba di rumah Maeda. Rumah itu dijadikan tempat pertemuan para pemimpin Indonesia. Usaha untuk mendapatkan jaminan persetujuan proklamasi kemerdekaan dari para pembesar Jepang gagal dilakukan. Jepang sudah bertekuk lutut kepada Sekutu. Keadaan seperti itu menjadikan Jepang terikat pada hukum untuk tidak menentukan kebijakan dalam status quo. Atas desakan kaum muda, para pemimpin nasional meneruskan rencananya tanpa persetujuan formal dari pihak Jepang. Sekelompok kecil pemuda berkumpul dengan Soekarno di sebuah ruangan untuk merumuskan isi proklamasi. Hari Jumat dini hari pertemuan selesai.

Proklamasi kemerdekaan akan segera dikumandangkan. Untuk menghindari bentrokan langsung dengan tentara Jepang, dipilih tempat yang tidak terlalu mencolok yaitu di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56. Pukul sepuluh pagi Soekarno muncul dengan pakaian rapi, diapit oleh Hatta dan Letnan Latief dari PETA, ia siap untuk membacakan teks proklamasi. Teks yang dirancang semalam suntuk itu akhirnya dibacakan, yang berbunyi:

“Kami Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.”

Upacara sakral itu ditandai dengan pengibaran bendera merah putih yang khusus dijahit oleh Fatmawati. Lagu Indonesia Raya berkumandang mengiringi pengibaran Sang Saka. Para pemuda berangkulan dengan kaum tua, semua ketegangan di antara mereka segera berubah menjadi perasaan haru. Hari itu, tanggal 17 Agustus 1945 menjadi tonggak baru perjuangan. Gerbang baru menuju Indonesia merdeka telah dibuka.

Menjadi presiden RI

Sehari setelah proklamasi, PPKI menggelar rapatnya. Mereka segera merumuskan konstitusi dan memilih presiden dan wakilnya. Soekarno terpilih menjadi presiden Republik Indonesia (RI) yang pertama, wakilnya Mohammad Hatta.

Sejak masa-masa awal pemerintahannya pertentangan antara golongan dan aliran politik sangat keras. Partai-partai mulai berdiri, Partai Nasional Indonesia (PNI) dipakai lagi, kalangan Islam bergabung dengan Partai Masyumi, golongan sosialis mempunyai Partai Sosialis, dan Partai Komunis Indonesia (PKI) bangkit kembali.

Di tahun-tahun berikutnya Belanda menunjukan niatnya untuk kembali menguasai Indonesia. Pasukan Belanda mulai memasuki Jakarta, demi keamanan ibu kota pemerintahan dipindahkan ke Yogyakarta untuk sementara. Soekarno diangkut ke Yogyakarta secara sembunyi-sembunyi. Ia dilarikan dengan kereta api yang melintasi belakang rumahnya pada malam hari.

Menghadapi masa genting seperti itu tokoh-tokoh politik mulai terpecah. Ada yang menghendaki penyelesaian dengan cara diplomasi dan melakukan perundingan dengan pihak Belanda seperti Hatta dan Sjahrir, di sisi lain ada yang menolak jalur perundingan seperi para pengikut Tan Malaka. Soekarno terombang-ambing di antara kedua pendapat itu. Namun pada akhirnya ia memilih golongan yang menghendaki penyelesaian diplomatis. Dalam barisan ini Sjahrir bertindak sebagai perdana menteri dan menjadi ujung tombak perundingan-perundingan dengan Belanda. Saat itu peranan Soekarno sebagai presiden menjadi terbatas sebagai kepala negara saja.

Pada suatu malam tanggal 19 Desember 1948, Soekarno terbangun oleh ledakan-ledakan bom yang dijatuhkan di lapangan terbang Yogyakarta. Belanda melakukan agresi militer. Terjadi dilema dalam dirinya untuk memilih antara melarikan diri atau menghadapi penangkapan oleh pasukan Belanda. Akhirnya ia memilih untuk tetap tinggal di kota itu. Bersama Hatta, Sjahrir, Agus Salim dan para petinggi pemerintahan lainnya, mereka ditahan Belanda. Mereka dibawa ke Prapat dan pulau Bangka. Rupanya pilihan itu sangat tepat, reaksi rakyat terhadap penangkapannya membawa bencana terhadap Belanda. Aksi militer itu mengguncang pendapat dunia untuk mengecam tindakan Belanda.

Dunia internasional menekan Belanda. Akhirnya pada bulan Juni 1949 disetujui gencatan senjata antara RI dengan Belanda. Kemudian pesawat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membawa Soekarno dan kawan-kawannya kembali ke Yogyakarta. Pertentangan dengan Belanda diselesaikan di meja perundingan. Melalui diskusi yang alot, pada tanggal 27 Desember 1949 Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, dengan syarat bentuk negaranya menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS).

Keesokan harinya Soekarno bersama kawan-kawannya kembali ke Jakarta. Dengan segala kemegahannya Soekarno menuju istana, ia segera mengubah namanya menjadi Istana Merdeka. Lapangan luas yang terbentang di depan istana merdeka dinamakannya Lapangan Merdeka. Di kemudian hari di tengah lapangan itu dibangun satu monumen lambang kemegahannya, yang terkenal dengan nama Monumen Nasional (Monas).

RIS tidak bertahan lama, pada tahun 1950 Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia dibawah konstitusi Undang-undang Dasar Sementara (UUDS). Sistem pemerintahannya menganut sistem Parlementer dimana pemerintahan di pegang oleh Perdana Menteri, sedangkan kepala negara tetap berada di tangan Soekarno sebagai presiden.

Pada tahun 1955, Indonesia membuat prestasi besar. Di Bandung 29 negeri dari Asia dan Afrika berkumpul menggelar konferensi. Pertemuan ini terkenal dengan nama Konferensi Asia-Afrika, yang menjadi cikal bakal gerakan Non-Blok. Bagi Soekarno sendiri, konferensi itu menjadi aksi internasionalnya yang pertama. Ia berusaha menonjolkan diri sebagai pemimpin negara-negara dunia ketiga di perpolitikan internasional. Ketika ia berpidato di depan sidang umum PBB, sebagai pemimpin dari dunia ketiga ia mendapat sambutan yang luas.

Di tengah karir politiknya yang semakin menanjak tersiar kisah hubungannya dengan Ny. Hartini Suwondo seorang istri pegawai perusahaan minyak. Soekarno menjalin cinta dengan Hartini. Setelah bercerai lebih dulu dengan suaminya, Soekarno mengawini Hartini. Seperti juga nasib rumah tangganya dengan Inggit, Fatmawati memilih untuk meninggalkan istana pindah ke suatu rumah di kemayoran. Fatmawati tidak rela berbagi rumah dengan saingan barunya di istana. Namun saat itu ia tidak bercerai dengan Soekarno, sehingga ia tetap dianggap sebagai ibu negara.

Pada periode itu, pemerintahan tidak bisa menunjukan prestasi yang baik dalam perekonomian. Untuk mengalihkan isu tersebut, Soekarno giat melakukan kampanye pembebasan Irian Barat. Seperti biasa ia mengeluarkan jargon-jargonnya yang keras. Banyak pihak yang bertentangan dengan sikap politiknya. Namun ia tidak menghiraukannya.

Kekukuhannya dalam bertindak menumbuhkan sikap saling bermusuhan. Terbukti dengan dilancarkannya berbagai upaya percobaan pembunuhan terhadapnya. Pada suatu hari Soekarno menghadiri upacara perayaan di sekolah Guntur anaknya. Ketika meninggalkan tempat itu, sekelompok pemuda melemparkan geranat tangan ke kumpulan orang-orang yang mengelilingi Soekarno. Saat itu Soekarno berhasil lolos, namun kejadian itu menyebabkan 11 orang tewas dan lusinan lainnya luka-luka. Selanjutnya ia kerap kali mengalami percobaan pembunuhan, namun selalu lolos dari maut.

Tahun-tahun berikutnya, pemerintah membentuk Badan Konstituante yang berfungsi merumuskan konstitusi republik menggantikan UUDS. Pekerjaan itu menjadi ajang perdebatan sengit dan berlarut-larut. Badan konstituante tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya. Rakyat sudah jenuh dengan perdebatan-perdebatan di konstituante. Dengan dukungan dari Angkatan Darat lewat Jenderal AH. Nasution, Soekarno mengumumkan dekrit presiden pada tanggal 5 Juli 1959. Dekrit ini menegaskan pembubaran konstituante dan kembalinya konstitusi RI ke UUD 1945. Bagi Soekarno sendiri peristiwa ini menunjukkan bahwa dirinya masih memiliki kekuatan politik. Secara Otomatis dekrit ini mengangkat dirinya menjadi tokoh sentral dalam perpolitikan di Indonesia. Undang-undang Dasar 1945 memberikan kekuasaan yang lebih besar dan leluasa kepada presiden. Hal ini sesuai dengan apa yang diinginkannya mengenai sistem demokrasi terpimpin yang ia suarakan sejak tahun lima puluhan.

Para tokoh politik yang tidak setuju dengan dekrit mengambil jalan bertentangan. Sebagian dari mereka membentuk pemerintahan sendiri sambil meminta dukungan rakyat. Di Sumatra terbentuk Pemerintahan Revolusi Republik Indonesia (PRRI), di Sulawesi terbentuk Perlawanan Rakyat Semesta (Permesta). Sejauh ini Soekarno bisa menggagalkan semua pemberontakan terhadap pemerintahannya.

Dalam kehidupan pribadinya, kesenangan Soekarno terhadap perempuan semakin menjadi-jadi. Soekarno mengambil istri lagi, kali ini incarannya Ratna Sari Dewi seorang pelayan bar berkebangsaan Jepang yang sangat menarik, nama aslinya Naoko Nemoto. Dewi dikenalnya ketika ia melakukan kunjungan kenegaraan ke Jepang. Selain itu ia mengawini Hariati, kemudian Yurike Sanger.

Di tahun enam puluhan Soekarno lebih menggiatkan kembali kampanye pembebasan Irian Barat yang sering didengung-dengungkannya. Pada tahun 1963, ia membuka konfrontasi dengan Malaysia yang dianggapnya boneka imperialis di Asia Tenggara. Slogannya “Ganyang Malaysia” menjadi sangat terkenal. Selain itu sebutan-sebutan seperti presiden seumur hidup, pemimpin besar revolusi, panglima tertinggi angkatan bersenjata, penyambung lidah rakyat dan lain-lainnya mulai melekat pada dirinya. Putera Indonesia yang cemerlang dan mempunyai kecerdasan politik tinggi ini terlena dengan kebesaran dan kekuasaannya.

Kejatuhan

Kematangannya dalam berpolitik tidak menjadikan Soekarno lebih bijaksana dari sebelumnya. Dengan sistem demokrasi terpimpin, Soekarno melangkah semakin percaya diri bahkan cenderung angkuh. Banyak kalangan menganggap Soekarno menjadi pemimpin yang otoriter. Namun pendapat seperti itu kurang bisa dibenarkan sepenuhnya. Selama karir kepemimpinan dan politiknya, ia tidak pernah menggunakan tangan besi dalam memerintah. Ia tidak bertindak represif terhadap lawan-lawan politiknya. Ia lebih bertumpu pada keterampilan politiknya yang tinggi. Kalaupun ada beberapa lawan politiknya yang dipenjarakan, agaknya hanya merupakan sebuah keterpaksaan dan bukan strategi yang dirancangnya.

Dengan lincah, ia memposisikan diri sebagai dalang dalam percaturan politik. Ia memanfaatkan kekuatan politik yang saling bertentangan, dimana ia bertindak sebagai pusat keseimbangan yang menetralisir semua kekuatan itu. Posisi sentral seperti itu, ditambah dengan kepercayaan rakyat yang sangat besar kepadanya, menjadikannya seorang pemimpin yang sangat kuat. Di tahun 60-an dimana kekuatan Masyumi sudah melemah, praktis kekuatan berada di tangan militer dalam hal ini Angkatan Darat, PNI dan PKI, dimana Soekarno bertindak sebagai tokoh sentral di antara ketiganya.

Peranan Soekarno diantara kekuatan-kekuatan itu meningkatkan suhu persaingan diantara mereka. Terutama persaingan antara Angkatan Darat dengan PKI, sudah berkembang pada titik yang kritis. Masing-masing mencoba meningkatkan pengaruhnya dalam pemerintahan Soekarno. Tarik menarik kekuasaan itu rupanya mendatangkan malapetaka besar bagi sejarah Republik di kemudian hari.

Jakarta, menjelang pagi hari tanggal 1 Oktober 1965 serombongan pasukan keluar dari markasnya di Halim. Dengan menggunakan tujuh truk militer, pasukan bergerak ke rumah-rumah para Jenderal. Mereka tergabung dalam pengawal istana Cakrabirawa di bawah komando Kolonel Untung, membawa misi penculikan tujuh jenderal. Enam jenderal berhasil diciduk, sedangkan Jenderal AH Nasution berhasil meloloskan diri. Mereka berdalih bahwa para jenderal yang tergabung dalam “Dewan Jenderal” itu akan melakukan kudeta terhadap pemerintahan Soekarno. Para penculik mengaku tindakannya merupakan pencegahan terhadap kudeta Dewan Jenderal, yang akan dilaksanakan sebelum tanggal 5 Oktober bertepatan dengan hari Angkatan Bersenjata. Tindakannya tidak hanya berhenti sampai penculikan saja, para jenderal tersebut dibunuh dengan cara yang kejam.

Pagi hari saat kejadian itu Soekarno berada dirumah Dewi salah satu istrinya di daerah Slipi. Mendengar berita yang mengejutkan itu, ia bergegas menuju Istana. Keadaan masih tegang, ia mendapat informasi di sekitar Istana Merdeka sudah berkeliaran pasukan tak dikenal. Ia memindahkan tujuannya ke rumah Hariati istrinya yang lain, kemudian dengan alasan keamanan ia meluncur ke Halim.

Setibanya di Halim ia bertemu Sekertaris Jenderal PKI DN. Aidit, Brigadir Jenderal Supardjo, Laksamana Muda Omar Dhani, dan Kolonel Latief. Para tokoh yang berada di Halim gagal mendapatkan dukungan Soekarno terhadap aksi penculikan para jenderal. Sementara itu gerakan yang dipimpin Kolonel Untung telah membangkitkan perlawanan di mana-mana.

Di pihak lain Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (KOSTRAD), Mayor Jenderal Soeharto yang tidak dimasukan dalam daftar tujuh jenderal, siap-siap menyusun kekuatan tandingan. Soeharto menghimpun perwira-perwira dan pasukan yang ada di pihaknya. Dengan strateginya siang itu ia sudah memegang kendali Angkatan Darat, dan siap menggempur musuhnya kalau diperlukan.

Di Halim Soekarno masih dalam posisi terjebak dalam kemelut itu. Ia mengumumkan mengambil alih Angkatan Darat dan mengangkat Jenderal Pranoto sebagai penanggung jawab hariannya. Namun perintahnya tidak digubris, Soeharto menganggap pasukan dibawah Kolonel Untung yang melakukan kup. Ia tetap mendesak pasukan yang melakukan kup untuk menyerah. Sore harinya Soekarno meninggalkan Halim menuju istana Bogor. Kemudian keesokan paginya Soeharto sudah bisa menguasai Halim.

Hari-hari selanjutnya Soeharto melakukan penangkapan terhadap orang-orang yang terlibat kup. Peristiwa ini meluas menjadi kebencian terhadap PKI secara keseluruhan. Konflik horizontal mulai timbul, Angkatan Darat melakukan penangkapan dan pembersihan anggota PKI di berbagai daerah. Operasi ini didukung oleh masyarakat sipil dari komponen Islam, dan kelompok lainnya yang termakan propaganda. Peristiwa ini memakan korban jiwa yang sangat besar dalam sejarah Indonesia modern. Tidak ada angka pasti mengenai korban pembantaian, sebagian memperkirakan 200-250 ribu orang, sebagian lagi memperkirakan sekitar satu juta orang.

Soekarno menegaskan agar rakyat menghindari perpecahan dan penghentian pembunuhan massal. Dalam suatu pidatonya di depan wartawan di Istana Bogor ia berseru, “Bangsa kita, saudara-saudara, sekarang ini betul-betul mengalami masa yang gelap. Hitam!” Ia mengutuk pembunuhan kejam atas para Jenderal, namun menghimbau agar rakyat tidak kehilangan akal sehat dan tidak mudah diadu domba.

Awal Januari 1966 mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), didukung Angkatan Darat mengadakan aksi besar-besaran. Mereka menuntut dibubarkannya PKI, merombak kabinet dan menurunkan harga. Hingga pada tanggal 11 Maret 1966 dengan terpaksa Soekarno menyerahkan mandat kepada Soeharto untuk mengambil tindakan-tindakan yang dianggap perlu untuk memulihkan keamanan dan stabilitas. Bagi Soekarno surat perintah ini berarti akhir karir politiknya.

Surat perintah itu dimanfaatkan Soeharto untuk mengambil langkah pembubaran PKI dan penangkapan terhadap kabinet yang diduga terlibat. Kemudian ia berhasil menyingkirkan orang-orang Soekarno di pemerintahan. Begitu terpukulnya Soekarno dengan keadaan ini. Bukan hanya sebuah kekuasaan yang dirampas dari tangannya, tapi lebih dari itu rasa persatuan yang diperjuangkan dalam konsep-konsep politiknya selama ini hancur luluh.

Kondisi kesehatannya terus memburuk, sedikit demi sedikit kekuasaannya dipreteli. Pengambilan kekuasaannya merupakan penghinaan bagi seorang Soekarno dengan segenap kebesaran di masa lalu. Kepada MPRS ia menyatakan gerakan 30 september ini sebagai kejutan besar, ada tiga hal yang menyebabkan peristiwa ini. Pertama, adanya orang-orang PKI yang keblinger. Kedua, kelicikan kekuatan-kekuatan neo-kolonialisme. Ketiga, “kenyataan adanya orang-orang aneh”. Pada tanggal 12 Maret 1967, MPRS mencabut segala kekuasaan politik dari tangan Presiden Soekarno, kemudian menetapkan Soeharto sebagai pejabat sementara presiden RI.

Soekarno dijatuhkan oleh suatu pristiwa yang sangat rumit, yang masih menyimpan misteri besar di belakangnya. Ratusan ribu bahkan jutaan rakyat tak berdosa menjadi korban. Tidak jelas siapa di balik siapa, dan sepertinya akan terus menjadi tanda tanya.

Hari yang sunyi

Sejak kekuasaanya secara resmi dilucuti, Soekarno tidak pernah menginjakkan kakinya lagi di Istana Merdeka. Ia dijauhkan dari kegiatan-kegitan politik, lebih dari itu ia dijauhkan dari rakyatnya, diasingkan ke paviliun Istana Bogor. Setelah kejatuhannya, Dewi kembali ke negerinya di Jepang dan resmi bercerai di tahun 1970. Hariati juga sudah menceraikannya. Akhirnya Fatmawati juga cerai dari Soekarno. Ia tersisihkan dari hubungan-hubungan anak manusia yang selama ini memberikan semangat kehidupan baginya. Di masa-masa akhir hayatnya tinggal Hartini satu-satunya istrinya yang sah.

Di Istana Bogor Soekarno ditemani Hartini serta kedua anaknya Taufan dan Bayu. Sesekali datang tim dokter yang memeriksa kesehatannya. Didampingi ajudannya, ia sering berkeliling sekedar untuk jalan-jalan. Sering ia mampir ke warung-warung makan di puncak sekedar ingin menikmati masakan Sunda. Di sana ia menemui rakyatnya kembali, ngobrol ngalor-ngidul tentang segala hal. Tak pelak lagi kehadirannya selalu dikerubuti warga yang ingin mendekati mantan pemimpinnya itu. Setiap kali Soekarno bertemu rakyatnya selalu terjadi keramaian. Pemerintah waktu itu tidak menghendakinya. Akhirnya Soekarno dilarang kelayapan lagi untuk selamanya.

Udara Bogor terlalu dingin bagi Soekarno tua, yang sudah sering sakit-sakitan. Soekarno dipindahkan ke Wisma Yasso, tempat tinggal Dewi di daerah Slipi. Di tempat ini juga ia ditemani oleh Hartini. Kalau ia mau keluar dari Wisma Yasso ke Bogor atau sebaliknya, harus seizin Panglima Kodam Jaya dan Panglima Kodam Siliwangi. Prosedur yang sama harus ditempuh bila ia hendak berobat ke dokter.

Sesekali ia meminta anak-anaknya datang mengunjunginya. Selain itu ada beberapa kawan dekat yang sesekali datang menjenguknya. Namun akhirnya pemerintah melarang Soekarno menerima tamu dari mana pun, terkecuali keluarganya. Soekarno bukanlah orang yang suka terhadap keterpencilannya. Menghadapi tekanan seperti itu ia semakin terpuruk dalam kesunyian. Sebagian besar kegiatan yang dilakukannya adalah membaca buku. Di pagi hari ia berjalan-jalan di halaman rumah. Perhatiannya dicurahkan pada hal-hal yang berbau seni. Dengan para pengawalnya ia sering membicarakan kisah-kisah Mahabrata dan Ramayana, maupun tentang lukisan.

1970.

Dalam tahanan rumah penguasa baru negeri, Soekarno wafat. Ia wafat dalam keadaan dinista. Padahal, dialah pendiri negeri bersama sejumlah Bapak Bangsa lainnya. Meski begitu, Soeharto tetap memerintahkan pemakaman kenegaraan untuknya. Meski ia berwasiat untuk dimakamkan di Bogor, di rumah Ratna Sari Dewi Soekarno yang disebut Hing Puri Bima Cakti, Soeharto memerintahkan agar Soekarno dimakamkan di Blitar. Maka jadilah dari Wisma Yaso (kini jadi Museum Sejarah ABRI Satria Mandala) di Jakarta jenazahnya dibawa ke Blitar melalui udara.

Banyak hal yang masih jadi misteri seputar kematiannya. Orde Baru tidak pernah secara resmi menyatakan Soekarno dalam tahanan. Namun jelas dari berbagai buku seperti Sewindu Dekat Bung Karno karya Bambang Widjanarko terungkap kesaksian bahwasanya di akhir hidupnya beliau dilarang menerima tamu tanpa seizin Kodam Jaya. Bahkan seluruh stafnya diganti dan anak-istrinya pun dibatasi kunjungannya. Bacaan dilarang dan tentu saja juga dilarang berkomunikasi dengan siapa pun dengan cara apa pun. Belum lagi isyu bahwa pengobatan yang diterimanya di bawah standar kepatutan medis.
Bagaimanapun caranya Sang Penyambung Lidah Rakyat ini coba ‘diekskomunikasi’kan, toh ia tetap di hati rakyat. Prosesi pemakamannya yang ternyata dihadiri ratusan ribu pelayat -terutama dari rakyat jelata- membuktikan hal itu.

Sumber foto: alumnigmni.org
Pada suatu waktu ia datang menghadiri pesta perkawinan anaknya. Terlihat tubuhnya semakin lemah, bahkan untuk berjalan pun harus dipapah. Menjelang fajar pada hari Minggu 21 Juni 1970 putera Indonesia ini menghembuskan napas terakhirnya di Jakarta. Hanya Hartini, istri keduanya dan Prof. Mahar Mardjono yang menemaninya di saat kepergiannya.

Dalam wasiat terakhirnya ia meminta dikuburkan di rumahnya di Batutulis Bogor. Pemerintah tidak mengabulkan permintaan terakhirnya. Pemerintah enggan membuat tempat ziarah yang terlalu dekat dengan Jakarta. Soekarno dimakamkan di samping makam ibunya di Blitar. Di masa-masa akhirnya, ia pernah berujar kepada salah seorang ajudannya dalam bahasa Belanda, yang artinya “telah kuberikan milikku yang paling besar bagi tanah air dan rakyatku, yaitu kebebasanku!”.

Selamat Jalan Bung Karno-ku, Jasamu teramat besar bagi kami, Bangsa Indonesia. Semoga Engkau damai di alam sana, dan Semoga Engkau Khusnul khatimah. Amiin

Dikutip dari berbagai sumber.

Semoga Bermanfaat.

Wassalamualaikum wr.wb

Imam Puji Hartono (IPH)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar