Sabtu, 25 Juli 2009

Pak Wamir:”Dari hasil mbecak, saya dan istri diundang Gusti Allah ke Masjidil Haram”

Ini kisah nyata, pada waktu itu sekitar awal tahun 2000, wanita berjilbab kembang-kembang berpenampilan sederhana itu melompat pelan. Pengemudi becak yang ditumpanginya, dengan napas kembang kempis, menyeka keringat yang berleleran di keningnya. Dengan berpakaian sederhana dan bertopi koboi, Wamir, pengemudi becak itu, masuk ke pelataran kantor Departemen Agama Brebes, Jawa Tengah.

Istrinya, wanita tua berjilbab tadi, membuntuti. "Pak, pinten ongkosipun mangkat kaji tiyang kalih (Pak, saya mau naik haji, berapa ongkosnya berdua,)" kata Wamir kepada petugas urusan haji.

Sesaat si petugas seperti tidak yakin, bagaimana mungkin kedua orang tersebut naik haji. Namun akhirnya petugas tersebut memberikan keterangan lengkap dan mengantarkannya ke Bank BRI Brebes.

Lelaki sepuh pengemudi becak berumur 65 tahun itupun mengarahkan becaknya ke Bank BRI. Uang sejumlah Rp 35.516.000,- (ONH waktu itu sekitar Rp. 17.758.000,-/orang) yang dibungkus kain pun berpindah tangan.

"Saya sudah pasrah, uang tabungan tersebut memang sudah lama kita niatkan untuk naik haji. Sekarang uang saya tinggal puluhan ribu saja, tapi tak apa, besok cari rezeki lagi" lanjut Wamir dengan senyumnya usai membayar biaya ONH. Ditemani hujan rintik-rintik, pasangan itu pulang dengan senyum sumringah.

Wamir dan Suri'ah pantas gembira. Biaya memenuhi rukun Islam kelima itu didapatnya dengan cucuran keringat hasil menggenjot becak dan menjual sayuran selama puluhan tahun. Saban harinya, lelaki berperawakan kecil itu mangkal di pasar Brebes. Seusai salat subuh, bersama Suri'ah yang sudah siap dengan sayur dan bumbu masak dagangannya, mereka berangkat bersama. "Saya tak pernah ngoyo. Ada rezeki, Alhamdulillah, dikumpulkan. Tak ada, ya berdo’a memohon pada Gusti Allah dan tetap berusaha," kata Wamir. Tetangganya di Kampung Pasarbatang menyebut pasangan itu seperti mimi lan mintuna alias Romeo dan Juliet.

Padahal, sejak menikah pada l950, kehidupan mereka amat miskin. Orangtuanya hanya mewariskan rumah kumuh. Maklum, orangtua Wamir hanya petani penggarap. Waktu melaju, hingga menapaki usia perkawinan ke-10. Saat dikaruniai satu anak, Wamir berpikir untuk mengganti pekerjaan. Wamir mencari utangan untuk membeli sebuah becak seharga Rp 15.000,-.

Hari pertama mengayuh becak menjadi pengalaman menyakitkan buat Wamir. Dari pasar Brebes (kota) ke Tegal yang jaraknya sekitar 15 kilometer cuma dibayar Rp 10. Karena Wamir prigel dan ramah, dia cepat mendapat banyak langganan. Selain pesaingnya masih sedikit, Wamir melengkapi becaknya dengan pelbagai aksesoris, semacam lampu dan bel. "Berbeda dengan mencangkul yang hanya menggerakkan tangan dan badan, mbecak bergerak seluruh badan. Rasanya tulang mau patah-patah," kenangnya. Obatnya murah, pijatan sayang sang istri.

Serbuan becak-becak ke Brebes, pada l976, membuat langganan Wamir berkurang. Uang tabungan sejak l960 dialihkan ke usaha bawang merah. Dia juga berjualan ayam dan kayu bakar. Meski sedikit, Wamir telaten menyimpannya. "Pikiran saya suatu saat akan pergi ke Baitullah untuk naik haji, seperti pak kyai," katanya polos.

Wamir yang buta huruf seolah hanya berkarya dan bekerja, tanpa pamrih. "Bisa menabung Rp 1.000, sudah Alhamdulillah," tambahnya. Tiga tahun lampau, ketika Indonesia belum dilanda krisis moneter, biaya haji baru Rp 8 juta. Tapi, uang Wamir belum cukup. Alhamdulillah, sepanjang tiga tahun ini, rezeki Wamir mengalir lancar. Penumpang yang biasanya hanya lima, terkadang mencapai puluhan sehari. Apalagi, harga bawang merah juga ikut melonjak.

Sampai suatu ketika, beberapa pekan lalu, Wamir dan Su'riah menyisakan waktunya selama tiga hari untuk menghitung uang yang disimpan di rumah. Masya Allah, jumlah uang yang terkumpul ada sekitar Rp.35,5 juta. Saat itu saya sempat digoda setan dan mulai berpikir lain,” Wah bune’ uang sebanyak ini kita pakai untuk bangun rumah kita saja," katanya. Tapi, istrinya marah-marah. "Pakne, sejak dulu, kita kumpulin uang dengan niat untuk naik haji. Rumah kan tidak dibawa mati," kata Suri'ah, mengingatkan suaminya.

Wamir pun terhenyak, dan tanpa ragu lagi esok paginya, mereka sepakat mendaftar haji. Ternyata, masa pendaftaran sudah ditutup. Oleh tetangganya yang kerja di sana, diberitahu akan ada pendaftaran susulan menunggu hitungan kuota propinsi Jawa Tengah. Harap-harap cemas menunggu, kabar dari Semarang pun tiba, jamaah Brebes bisa ditambah. "Kami mendaftar di urutan kedua," kata Wamir dengan wajah cerah.

Kini, di rumahnya yang sederhana, hanya berisi satu set kursi lusuh, lemari, dan dipan, Wamir dan Su'riah -yang ditemani empat dari sepuluh cucunya- setiap malam mengaji, shalat tahajud, dhuha dan shalat taubat serta bersedekah meski ia sendiri dalam kekurangan. Karena sibuk manasik haji, maka Wamir sementara stop mbecak jika ia dan istrinya manasik.

Meski begitu, mereka sesekali kelihatan di pasar. "Kami tetap bekerja untuk bekal di Makkah dan ditinggal buat cucu," kata Wamir. Keduanya berniat tak akan berganti pekerjaan sepulang dari tanah suci. Hanya frekuensinya akan dikurangi, sebab Wamir akan berkonsentrasi ke bawang merah.

Kisah di atas masih sangat relevan untuk dikemukakan sebagai pembelajaran oleh kita semua. Memang agama Islam mengajarkan bahwa hanya orang yang sudah mampu secara finansial yang terkena kewajiban haji.

Allah SWT berfirman, "Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam."(Ali Imran: 97)

Ibadah haji adalah undangan Allah bagi manusia, walau orang miskin sekali pun akan bisa naik haji kalau Allah menghendaki. Allah SWT berfirman:"Niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka." (al-Hajj: 27-28)

Sebaliknya banyak orang kaya serta pejabat yang gajinya mencapai ratusan juta per bulan tetapi dia belum bisa berangkat haji. Bahkan ada Pejabat Tinggi dengan kekayaan dua puluhan miliar yang sekarang mencalonkan jadi cewapres ternyata masih belum naik haji.

Ibadah Haji memang kewajiban muslim yang telah mampu/berkecukupan. Akan tetapi semua tergantung pada niat dan kemauan keras kita Pak Wamir telah membuktikan, dengan ketelatenan selama puluhan tahun menabung dari kucuran keringat dan ridha Ilahi tentunya, ia dan istrinya bisa naik haji. Jadi masalah susah atau gampang kembali pada pribadi kita masing-masing.

Berhaji dengan hasil puluhan tahun berbecak dan jualan sayur serta perasan keringat tentunya menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Pak Wamir dan istrinya.

Insya Allah haji mereka berdua mabrur dan Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka serta menggantikan ongkos yang telah mereka keluarkan sebagaimana do’a Rasulullah SAW kala menyambut kepulangan jama’ah haji :” Semoga Allah menerima hajimu, mengampuni dosamu dan mengganti ongkosmu (biaya-biayamu)." (HR. Ad-Dainuri). Amiin

“Labbaik Allahumma Labbaik. Labbaik Kala syarika laka labbaik. Innal hamdah, wannikmata, lakawal mulk, laa syarii kalak” , artinya "Aku datang (memenuhi panggilanMu), ya Allah, aku datang. Aku datang dan tiada sekutu bagi-Mu, aku datang. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kerajaan (kekuasaan) milikMu, tiada sekutu bagiMu." (HR. Bukhari).

Semoga bermanfaat.
Wassalamualaikum wr.wb
Imam Puji Hartono (IPH)
Diperbarui sekitar sebulan yang lalu · Komentar · Suka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar