Selasa, 21 Juli 2009

MAKNA MUSIBAH

MAKNA MUSIBAH
for everyone
Allah Swt. berfirman di dalam al-Qur'an surat al-Baqarah ayat 155 - 157 :Artinya : Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (155), (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji'uun" (156). Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan-nya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (157).

Dunia ini bagi orang-orang mu'min adalah sebagai tempat ujian dari Allah Swt. Allah akan memberikan bala yang artinya ujian, musibah baik berupa kesusahan, kesengsaraan, malapetaka dsb. Dalam ayat di atas Allah memberikan cara bagaimana menghadapi musibah tersebut sekaligus memberikan obatnya. Dan tidak ada obat lain, cara lain selain yang tersebut dalam ayat tersebut. Dalam ayat lain dikatakan pula kepada orang-orang beriman untuk meminta pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat. Yaa ayyuhalladziina aamanuusta'iinu bisshobri wassholaah, innallaha ma'asshoobiriin.

Bagi mereka yang hanya menyembah Allah dengan kalimat Tauhid Laa ilaaha illallaah dan senantiasa selalu berada didalam naungan ilahiyah, dan ingin mendapatkan kebaikan dari Allah, maka dia akan melakukan sabar yang diambil dari sifat Allah as-Shobuur dalam menghadapi setiap musibah. Sifat Sabar digandengkan dengan shalat. Artinya kedua-duanya harus dilakukan. Tidak bisa kita bersabar tanpa melakukan shalat atau sebaliknya melakukan shalat tapi tidak sabar. Karena sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Mereka yang mati terkena musibah bisa digolongkan mati syahid. Seperti kematian yang datangnya secara tiba-tiba misalnya kecelakaan, sedang menuntut ilmu, melahirkan, ataupun musibah yang lain seperti terkena musibah alam selama mereka orang-orang yang beriman. Termasuk mereka yang berjihad terhadap hawa nafsunya atau akhir kalamnya adalah laa ilaaha illallaah. "Dan janganlah kamu mengatakan kepada terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.

Nabi Muhammad Saw. Bersabda bahwa orang-orang yang mati syahid (syahid dunia, syahid akhirat atau syahid dunia akhirat) maka Allah akan menjadikan ruh-ruh mereka seperti burung-burung yang berwarna hijau dan memberi mereka makan dari pohon-pohon surga. Dalam hadits lain disebutkan bahwa mereka itu bergembira, mendapatkan berbagai kenikmatan dari Allah Swt., hingga hari kebangkitan tiba. Jadi, kita tidak boleh terlalu bersedih dengan musibah kematian yang menimpa kita, karena sebenarnya orang-orang yang telah meninggalkan kita, apabila mereka beriman dan beramal sholeh maka mereka akan berbahagia di alam sana. Rasulullah Saw. pun pernah menangis ketika anaknya Ibrahim meninggal.

Ulama tasawuf menta'wilkan/mengirsyadkan ayat Yaa ayyuhalladziina aamanuusta'iinu bisshobri wassholaah, innallaha ma'asshoobiriin dengan mengatakan : yaa ayyuhalladziina aamanuu bi thoriiqil khusuus ista'iinu 'ala suluuki thoriiqi hadhorootinaa wa musyahadati anwaari qudsina bi shobrii alaa ma tobrohum nufusi. Artinya : Wahai orang-orang yang mencari jalan, wahai orang-orang yang berjalan kepada jalan thoriqoh, orang-orang yang menjalani suluk, orang-orang yang senantiasa bemusyahadah dengan Allah Swt. dengan menginginkan kesucian nur yang diberi oleh Allah Swt. dan kamu dapat membersihkan jiwa kamu. Maka kamu akan terus diberikan oleh Allah Swt. kekuatan. Karena kamu menjalankan as-sholaatu daa imah; yaitu dzikrullah, karena lisan dan hati kita senantiasa bermuroqobah, bermusyahadah dengan Allah Swt. Innalloha ma 'asshoobiirin. Dan Allah akan bersamamu wahai orang-orang yang berdzikir kepada Allah, mensucikan dirinya.

Orang-orang seperti ini, apakah dia dalam keadaan kaya raya atau miskin, kuat atau lemah, sama saja. Kedua keadaan tersebut tidak melalaikannya, tidak lupa dari mengingat Allah setiap saat. Secara jasmani mereka bersama kita tetapi sebenarnya mereka bersama Allah. Allah memberikannya karunia dan rahmat. Jadi bagi kita yang telah menemukan orang yang telah diberikan nikmat akhirat di dunia ini, mintalah barokah kepadanya supaya kita bisa merasakan nikmat surga yang telah Allah berikan kepada mereka. Sekurang-kurangnya ruh kita berada bersama-sama menikmati bimbingan, barokah dari mereka.

Sesungguhnya cobaan yang diberikan oleh Allah itu sedikit, tetapi kita merasakannya begitu banyak. Cobaan itu yaitu perasaan takut, lapar, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan berupa musibah dunia maka kita harus bersabar. Imam Syafei mentafsirkan rasa takut itu adalah rasa takut kita kepada Allah. Sehingga semua cobaan itu diberikan untuk menguji sejauh mana keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah. Kelaparan dimaksudkan dalam ayat itu adalah shaum Ramadhan, salah satu yang dapat meningkatkan ketaqwaan kita. An-Nafs minal amwal; Jika kamu mempunyai kelebihan harta apakah kamu bisa mengeluarkan zakat dan shodaqoh itu atau merasa berat untuk mengeluarkannya.

Sabda Nabi Muhammad Saw. bahwa musibah itu adalah segala sesuatu yang tidak disenangi oleh orang mukmin. Tidak hanya kematian saja, maka kita berkata inna lillaahi wa inna ilaihi rooji'uun. Didalam kalimat tersebut terdapat arti tauhid rububiyyah, ubudiyyah, mulkiyyah. Jika kita bersabar dengan ujian yang diberikan maka Allah Swt. akan memberikan nikmat yang besar. Baik sabar ketika mendapat ujian atau mendapat nikmat atau sabar dalam menjalankan ketaatan kita kepada Allah atau sabar terhadap melakukan maksiat. Yaitu perintah-perintah dari guru Mursyid kita untuk kita sebagai murid yang sedang belajar mengamalkan tarekat Qoodiriyyah Naqsyabandiyyah; melaksanakan dzikir, Khataman, Manaqiban, Tanbih dan sebagainya. Kita harus berterima kasih, bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah bisa bertemu dengan seorang guru Mursyid sehingga keadaan kita menjadi seperti sekarang ini. Mendapatkan kelapangan rezeki, kedudukan kita terhormat dan sebagainya.

Jika kita dapat bersabar maka kita akan mendapatkan pintu rahmat Allah baik di dunia atau di akhirat nanti, mendapatkan hidayah seperti yang diberikan kepada para nabi, para shidiqqin, para syuhada, para sholihin. Semoga dibawah bimbingan guru Mursyid kita, kita menjadi orang-orang yang bertaqwa, sabar terhadap cobaan yang datang serta ikhlas mengamalkan tarekat ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar