Sabtu, 25 Juli 2009

Kisah Sufi : Mengundang Tuhan makan malam

Pada suatu hari, beberapa orang dari Bani Israil datang menemui Musa As dan berkata, "wahai Musa, bukankah engkau boleh bicara dgn Tuhan? Tolong sampaikan pada Nya, kami ingin mengundang Nya makan malam."

Musa marah luar biasa. Ia berkata bahwa Tuhan tdk perlu makan dan minum.

Ketika Musa datang ke gunung Sinai untuk berbicara dgn Tuhan, Tuhan bersabda, "Mengapa engkau tidak menyampaikan kepada-Ku undangan makan malam dari hamba-Ku?"

Musa menjawab, "Tapi Tuhanku engkau tidak makan. Engkau pasti tdk akan menerima undangan tolol seperti itu."

Tuhan berkata, "Simpan pengetahuan antara kau dan Aku. Katakan pada mereka, Aku akan datang memenuhi undangan itu."

Turunlah Musa dr gunung Sinai dan mengumumkan bahwa Tuhan akan datang untuk makan malam bersama Bani Israil. Tentu saja semua orang, termasuk Musa, menyiapkan jamuan yg amat mewah. Ketika mereka sedang sibuk memasak hidangan-hidangan terlezat dan mempersiapkan segalanya, seorang kakek tua muncul tanpa diduga. Orang itu miskin dan kelaparan. Ia meminta sesuatu untuk dimakan. Para koki yg sibuk memasak menolaknya, "Tidak, tidak kami sedang menunggu Tuhan. Nanti ketika Tuhan datang, kita makan bersama-sama."

Mengapa kamu tdk ikut membantu. Lebih baik kamu ikut mengambilkan air dari sumur!. Mereka tdk memberi apa-apa untuk kakek malang itu. Waktu berlalu, tetapi Tuhan ternyata tdk datang. Musa menjadi amat malu dan tdk tahu harus berkata apa kepada para pengikutnya.

Keesokkan harinya, Musa pergi ke Gunung Sinai dan berkata, "Tuhan, apa yg Kau lakukan kepadaku? Aku berusaha meyakinkan setiap orang bahwa Kau ada. Kau katakan Kau akan datang ke jamuan kami, tapi Kau ternyata tdk muncul. Sekarang tdk ada yg akan mempercayaiku lagi!"

Tuhan menjawab, "Aku datang. Jika saja kau memberi makan kepada hamba-Ku yg miskin, kau telah memberi makan kepada-Ku."

Tuhan bersabda, "Aku, Yang tidak bisa dimasukkan ke seluruh semesta, namun dapat masuk ke dalam hati hamba-Ku yg beriman."

Ketika kita berkhidmat kepada hamba Tuhan, kita tekah berkhidmat kepada-Nya. Ketika kita mengabdi kepada mahluk, sesungguhnya kita juga mengabdi kepada Sang Khalik.

Pada riwayat lain, Nabi Musa a.s. suatu ketika pernah bertanya kepada Tuhan, "Gerangan di mana aku dapat mencari-Mu?"

Tuhan Yang Maha Pengasih menjawab, "carilah AKU di tengah mereka yang hancur hatinya."

Makna apa sebenarnya yang tersembunyi dari cerita itu? Dialog tersebut sebenarnya mengisyaratkan bahwa Tuhan selalu hadir di tengah-tengah orang susah, orang-orang tertindas, orang-orang papa yang jauh dari kesejahteraan materi; dan Tuhan menghibur serta menolongnya.

Al Qur’an, Injil, dan Taurat, mengajarkan hikmah melalui cerita, tamsil, ibarat, perumpamaan. Jalaluddin Rumi, Khalil Gibran, maupun Idries Shah memilih cerita untuk menyampaikan ajarannya. Cerita mengkritik orang dengan terguran lembut, tanpa kesan menggurui.

Wallahualam bissawab.

Semoga bermanfaat
Wassalamualaikum wr.wb
IPH

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar