Jumat, 17 Juli 2009

pilih-pilih calon suami: tak kan rugi lebih selektif Copas from: www.kafemuslimah.com.

Tri sejak duduk di bangku kelas 2 SMU memang sudah memutuskan untuk tidak pacaran, Ogah ngabisin waktu, pikiran, hati dan tenaga untuk yang satu itu.Sebuah prinsip yang sampai lepas kuliah masih teguh dipegangnya. Sebenarnya bukan sekedar prinsip, tapi adalah satu proses baginya untuk lebih mengakrabkan diri membagi waktu, pikiran, hati dan tenaganya hanya untuk Sang Pencipta, Allah SWT. Bagi sebagian orang, mungkin Tri adalah cewek yang tidak beruntung, karena sudah cukup usia belum juga pernah merasakan indahnya masa-masa pacaran. Tapi tidak bagi sebagian yang lain, Tri lebih beruntung dari yang sering pacaran dan gonta-ganti pacar, Tri sudah membuktikan bahwa dirinya tak mudah diraih oleh sembarangan pria, bahwa ia sudah lebih bisa menguasai hatinya, bahwa hidupnya bisa lebih tenang dan aman hingga lebih khusu bercinta pada Sang Khalik semata. Tri yakin bahwa jodohnya ada ditangan Tuhan, ketika saatnya tiba, dia akan datang sendiri dan meminangnya. Tri lebih suka menamakan jodoh dari Tuhan itu dengan sebutan Mujahid. Yang penting baginya adalah bagaimana membimbing dan membina diri sendiri menjadi wanita sholehah.

"Mbak Tri, sebenarnya tipe suami idaman mba yang gimana sih?" tanya Oppie. Gadis ABG, ade satu-satunya Tri.
"Emangnya kenapa?" tanya Tri singkat.
"Mau tahu aja"
"Abisnya yang ini nggak setuju, yang itu geleng-geleng, Oppie jadi bingung. Emang kriterianya apaan sih?" Tri senyum melihat wajah adiknya serius.

"Yang pertama, taat beragama dan baik akhlaknya, trus menjauhi kemaksiatan, kuat semangat jihadnya, dari keluarga shaleh, taat kepada orang tua, mandiri dalam ekonomi, kualitas setara atau lebih baik, dapat memimpin, bertanggung jawab, adil, berperilaku halus, tidak kikir, dan stop!" sela Oppie.
"Yang begituan sih sampe nenek-nenek nggak bakal ketemu mbak," tambah Oppie.
''Insya Allah ada'' Tegas Tri yakin sambil tersenyum. Oppie menganga, kaget. Dan Tri pun berlalu dari pandangannya.

**


Tri tak salah dalam menetapkan kriteria calon pendamping hidupnya, karena baginya pria yang ada disisinya kelak adalah pria yang bisa diajak ngaji bersama, shalat berjama'ah, belajar, bekerja. Pria yang mampu menanamkan akhlak mulia bagi diri dan anak-anaknya kelak. Tak berlebihan impiannya, toh setiap wanita ingin kehidupannya lebih baik lagi baik di dunia maupun di akhirat. Tak salah kalau kriteria Tri seperti apa yang diungkapnya. Memilih jodoh memang tak perlu tanggung-tanggung, tak baik mengandalkan materi belaka atau kegagahan semata.

Bagi Tri, wanita juga mesti punya kriteria idaman, meskipun tidak melalui pacaran, wanita juga bisa menentukan pilihan yang sesuai dengan prinsipnya. Makanya agar wanita muslim tidak terjerumus dalam perangkap pria yang merugikan kehidupan agama dan rumah tangganya kelak, setiap wanita atau orang tua atau walinya perlu selektif terhadap pria yang meminta dirinya atau anak atau wanita dibawah perwaliannya menjadi istri. Mengingat fungsi suami yang menjadi pemimpin dan contoh yang baik bagi keluarganya, wanita muslim atau orang tua atau walinya tidak boleh menganggap remeh masalah kualitas keagamaan pria yang menjadi calon suaminya.

Banyak cara mengenal calon suami secara singkat tanpa lewat proses pacaran. Seperti yang dilakukan Tri. Tri yakin pendapat banyak orang lebih subyektif daripada pendapat 1 orang. Tentu saja orang yang dimaksud adalah orang-orang yang dapat dipercaya dan terpercaya, seperti pendapat keluarga Tri, keluarga pria itu, para tetangga, sahabat dekat, dan yang terutama adalah sinyal dari Allah. Bagaimana cara Tri melakukan hal itu dalam waktu singkat, bahkan tanpa lewat pacaran? Begini nih

>AT BERAGAMA & AKHLAK MULIA
Untuk mengetahui apakah calon suami taat beragama dan berakhlak baik, dapat dilakukan dengan cara:

1.Tanyakan dan selidiki dengan seksama seberapa jauh pria itu beragama dan bagaimana akhlaknya, taat menjalankan shalat 5 waktu, taat menjalankan puasa Ramadhan, patuh pada orang tua, rukun dengan tetangga, dan sikapnya terhadap yang lemah atau miskin.

2.Perhatikan teman-teman pergaulannya, apakah mereka taat menjalankan agama atau suka berbuat maksiat.

MENJAUHI MAKSIAT

1.Menanyakan kepada calon suami atau tetangga dekatnya tentang latar belakang kehidupannya, apakah ia pernah berjudi, minum-minuman keras, melakukan free sex atau tidak, dan bagaimana sikapnya terhadap teman yang berjudi atau minum-minuman keras atau melakukan pergaulan seks bebas.

2.Mengetes pengetahuannya tentang perbuatan-perbuatan yang dipandang dosa besar dalam Islam.


SEMANGAT JIHAD

1.Tanyakan pada teman-teman dekatnya apakah ia suka mengikuti kegiatan dakwah, seperti mengurus masjid, membantu pengajian, dll atau tidak.

2.Amati dan cermati keadaan keluarganya apakah mereka suka membantu kegiatan dakwah atau tidak.

3.Tes calon tersebut dengan beberapa kasus pelanggaran atau pelecehan terhadap agama, apakah yang bersangkutan merasa terpanggil untuk membela agamanya atau tidak. Amati bagaimana sikapnya bila mengetahui ada masjid dibakar oleh orang non Islam, misalnya apakah ia diam atau marah.

DARI KELUARGA SHALIH

1.Cek keluarganya tentang bagaimana shalat, puasa, usahanya mendapatkan rezeki, kewajiban membayar zakat, dll.

2.Cek lingkungan tempat tinggalnya apakah tetangganya orang-orang yang shalih ataukah orang-orang yang suka berbuat maksiat dan di kampungnya terdapat masjid atau tidak.

3.Cek lingkungan kerjanya, apakah ia bekerja ditempat yang melakukan usaha secara halal atau haram dan apakah teman kerjanya suka melakukan kegiatan maksiat atau taat kepada agama.

TAAT PADA ORANG TUA

Tanyakan hal tersebut pada anggota keluarga atau kerabat dekat dan tetangganya.

MANDIRI DALAM EKONOMI

Tanyakan secara langsung, pada keluarga, tetangga atau teman-teman dekatnya tentang apakah ia benar-benar sudah bekerja atau belum. Apakah penghasilannya layak untuk bersuami istri atau belum.

KUALITAS SETARA ATAU LEBIH BAIK-

Tes pengetahuan agamanya, intelektualnya (bagaimana sikapnya bila ia tidak punya uang untuk pulang, sedang ia mendapat kabar orang tuanya sakit di kampung), mentalnya (bagaimana sikapnya bila diamanahi uang oleh orang lain, sementara pada saat itu ia butuh uang untuk berobat), emosinya (apa yang dia lakukan bila terlambat mendapat bagian makanan), ketaatannya (bagaimana sikapnya bila dia dilarang masuk ke suatu ruangan, sedangkan di tempat itu dompetnya tertinggal), dan kesungguhan serta ketangguhannya (bagaimana sikapnya bilka disuruh menjaga pintu keluar masuk karyawan, apakah orang yang terlambat dilarang dengan tegas supaya tidak masuk walau saudara sendiri atau calon istri).

DAPAT MEMIMPIN

1.Ajukan tes psikologi yang dapat mengukur tingkat kemampuan kepemimpinan calon.

2.Selidiki tingkah laku dan kepribadian calon dalam pergaulan dengan teman-temannya.

3.Selidiki kepribadian calon di tengah keluarganya, apakah ia orang yang memiliki kemampuan memimpin atau tidak

4.Perhatikan cara dia menyelesaikan tugas-tugas yang diembankan kepadanya, apakah dapat diselesaikan dengan baik atau tidak.

BERTANGGUNG JAWAB

1.Selidiki dan amati dengan seksama perilaku calon dalam memikul tugas-tugas yang diembankan kepadanya. (Misalnya bagaimana sikap ia bila dititipi barang untuk disampaikan kepada orang lain, apakah ia melaksanakannya dengan baik atau tidak)

2.Tanyakan kepada teman-teman dekatnya, bagaimana ia menjalankan tugas-tugas yang menjadi kewajibannya, apakah ia lakukan dengan penuh tanggung jawab atau tidak. (Bagaimana sikapnya bila disuruh orang tua untuk berbelanja, apakah uangnya dibelanjakan dengan benar atau tidak)

3.Teliti kondisi lingkungan dan keluarganya, apakah ia termasuk orang yang suka melakukan tugas-tugas dengan penuh tanggung jawab atau tidak. (Bagaimana sikapnya bila dititipi uang simpanan bersama, apakah dipergunakan untuk kepentingan pribadi atau tidak)

4.Uji calon dengan tugas atau persoalah hingga dapat diketahui seberapa besar tanggung jawabnya menyelesaikan persoalan tersebut.


ADIL

1.Tanyakan pada teman-teman atau keluarga dekatnya, apakah dalam pergaulan dengan mereka ia selalu bertindak adil ataukau terkadang adil, terkadang curang atau lebih banyak curang dari pada adil atau lebih mementingkan diri sendiri dan suka merugikan orang lain.

2.Tes calon dengan beberapa tindakan, misalnya suruh membagikan sumbangan makanan dikampungnya apakah ia mengutamakan teman dekatnya dan mengabaikan orang lain atau memperlakukannya sama.

3.Selidiki kebiasaan dan perilakunya dengan sesama saudara dalam keluarganya, apakah ia orang yang adil ataukah orang yang suka merugikan kepentingan saudaranya.

BERPERILAKU HALUS

1.Perhatikan kebiasaan calon dan keluarganya, apakah mereka suka berbuat kasar dan kejam atau tidak

2.Tanyakan kepada teman-teman atau tetangga dekatnya, apakah calon atau keluarganya sehari-hari berperilaku ramah dan halus atau kasar dan kejam kepada orang.

3.Tanyai para pembantu atau pelayan jika punya, apakah mereka sering diperlakukan kasar dan kejam atau diperlakukan kasar dan kejam atau diperlakukan halus dan terhormat.

4.Ajukan sejumlah pertanyaan yang bersifat tes psikologis sehingga dapat diketahui apakah ia tipe orang yang kasar dan kejam atau halus dan mulia.

TIDAK KIKIR

1.Tanyakan kepada teman, tetangga atau keluarganya, apakah calon bersifat kikir atau dermawan.

2.Uji dengan beberapa kasus, misalnya minta bantuan memenuhi kebutuhan anak yatim atau orang jompo.

3.Teliti kebiasaan keluarganya, apakah mereka kikir atau dermawan.

TIDAK LEMAH SYAHWAT

1.Tanyakan kepada calon tentang keadaan dirinya. Sang calon tentunya harus menjawab dengan jujur atau dengan nama Allah. Jika ternyata ia berbohong, ia harus berani bertanggung jawab menanggung resikonya kelak. Cara ini kurang efektif, namun sebagai seorang muslim cara ini menumbuhkan tanggung jawab akhirat yang jauh lebih berat bagi yang bersangkutan.

2.Minta calon untuk melakukan tes kesehatan seksual, apakah ia termasuk orang yang lemah syahwat atau normal.

SUBUR DAN SENANG BERKETURUNAN

1.Apakah dia senang punya anak atau tidak?

2.Minta calon untuk lakukan tes kesehatan guna mengetahui apakah ia memiliki benih subur atau tidak.

Begitu banyak hal yang mesti wanita muslimah utarakan dengan jujur berkaitan dengan memilih pasangan yang tepat. Memang perlu waktu dan proses, nikmatilah proses itu dengan tetap menjaga kehormatan diri dan kemuliaan akhlak. Untuk mencari jawaban atas cara-cara di atas, wanita muslimah bisa meminta bantuan orang-orang terdekatnya yang dapat dipercaya. Mungkin tak semua cara dilakukan, yang penting wanita muslimah lebih tahu apa yang dimaunya. Pokoknya tak kan rugi lebih selektif memilih suami, wong taruhannya surga atau neraka. Kalau pun belum dapat yang sesuai sementara usia terus bertambah, jangan gundah karena Allah pasti punya rencana A, B, C, etc yang lebih baik lagi untuknya. Allah melihat proses dari suatu persoalan, bukan melihat pada hasilnya. (Fairuz, Sumber: Memilih suami, M. Thalib)


semoga bermanfaat.. ^-^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar