Sabtu, 27 Juni 2009

Senja di Bumi Banjaran…

Senja di Bumi Banjaran…

Lelaki tua itu, kembali kulihat dengan gerobak sampahnya. Dengan penuh kehati-hatian, mendorongnya menyeberang jalan. Ah, sebenarnya agak ngeri juga. Lalu lintas jalanan ini selalu saja ramai. Mungkin karena begitu lurus, sehingga kecepatan pemakainya pun tidak kira-kira. Meski kecelakaan sudah teramat sering terjadi, nyatanya tidak menjadi pelajaran bagi yang lainnya. Kadang aku dibuat kesal, terlebih jika ada pengendara yang ngebut di malam hari, tanpa melengkapi motornya dengan pencahayaan pula.

Namun lelaki itu selalu tersenyum, meski tidak ada lagi giginya yang bisa dipamerkan. Kutaksir umurnya delapan-puluhan. Aki Memen, begitu ia biasa disapa. Menunggu jalanan agak sepi, berlama-lama, ia tetap saja sabar. Entah, berapa kali ia harus menyeberangi jalanan ini, untuk menunaikan tugasnya. Mendorong gerobak sampah, mengambilnya dari rumah ke rumah.

Dan senja itu, sengaja kusempatkan bercakap dengannya. Kutemui lelaki dengan cirinya yang khas : topi usang, sepatu tua, dan gerobak sampahnya. Oh ya, satu lagi, senyumannya. Dari percakapan itu, aku banyak mengambil hikmah darinya. Mungkin tidak banyak orang yang bisa menghargai keberadaannya. Masyarakat mungkin hanya menganggapnya sebagai lelaki tua, pengambil sampah, dan tukang ronda. Namun, ijinkan kali ini, aku menunjukkan hormatku kepadanya. Lelaki yang kuanggap luar biasa. Puluhan tahun pekerjaan ini telah dilakoninya. Meski aku yakin, itu bukanlah impiannya.

Awalnya aku mengira bahwa Aki Memen adalah penduduk sekitar kampung Banjaran. Namun nyatanya bukan. Lelaki ini masih harus naik angkot, yang lumayan jauh dari rumahnya. Karenanya, tidak setiap hari ia bisa pulang. Tentu alasannya untuk mengirit ongkos transport, agar bisa menghidupi istrinya. Untungnya, kedelapan anaknya sudah berkeluarga.

Kebanyakan orang bermimpi akan masa tuanya yang dinikmati dengan bersantai saja. Mengharapkan anak-anaknya yang kelak menanggung hidupnya. Atau, mengharapkan uang pensiun untuk menghabiskan sisa usia. Sayangnya, Aki Memen tidak mungkin berharap keduanya. Ia tidak bisa mengandalkan anak-anaknya, yang mungkin juga sama susahnya. Yang kutahu, beberapa anaknya bekerja sebagai buruh pabrik. Tentu saja bukan bagian yang mapan, mengingat Aki Memen tak pernah sanggup membiayai sekolah anak-anaknya.

Susahnya hidup tidaklah membuat Aki Memen putus asa. Ia tetap tegar, meski untuk jenis pekerjaan ini jarang-jarang ada orang yang menyukainya. Ia rela, meski harus berteman dengan sampah-sampah, debu, aroma busuk, peluh, panas, dan segala bentuk ketidaknyaman lainnya. Bayangkan kawan, untuk kerjanya ini, ia hanya mendapatkan gaji Rp.100.000 per bulan. Belum dikurangi uang transport untuk pulang. Belum lagi untuk keperluan sehari-harinya. Ahh..sedih hati ini sebenarnya. Harga yang tidak seberapa, untuk membayar kerja yang dimulai jam 7 pagi hingga petang. Bahkan, malam hari pun, ia masih harus meronda, memastikan rumah-rumah warga bisa aman. Sungguh, tugas yang begitu mulia, meski kelihatannya sederhana. Namun, bayangkan jika tiada hadirnya. Bisa jadi banjir dimana-mana. Bisa jadi warga kurang bisa tidur nyenyak.

Hari ini, aku belajar darinya. Seorang lelaki tua, dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya. Ia yang tidak pernah meninggalkan kewajiban kepada Penciptanya. Ia yang menjalani hidupnya dengan penuh keikhlasan, tanpa beban. Jika sampai saat ini ia belumlah mendapatkan balasan yang layak-semoga-kelak Allah memberikan kehidupan yang jauh lebih baik. Menikmati kebahagiaan yang abadi. Amiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar